Proyektor Ramah Lingkungan Casio Makin Diminati

Proyektor Ramah Lingkungan Casio Makin Diminati(Jakarta) Dengan label hijau dari Singapore Environment Council, Casio Singapore memimpin pasar proyektor laser tanpa lampu. Badan lingkungan hidup di negara itu dikenal ketat dalam memberikan label hijau untuk sebuah produk. “Di 2015 penjualan kami meningkat tiga kali lipat dibandingkan tahun lalu,” ujar Product Marketing Specialist Casio Singapore, Desmond Gay.


Berkat pencapaian itu, mereka naik ke posisi empat besar di negara kota itu. Sebelumnya, perusahaan elektronik itu berada di tempat ke-12. Proyektor ini dikategorikan ramah lingkungan dan aman karena tak lagi menggunakan lampu merkuri.


“Tidak membutuhkan penggantian lampu sampai 20.000 jam. Penggantian lampu ini membutuhkan biaya yang tak sedikit. Produk ini juga hemat energi, tidak panas karena punya sirkulasi udara yang bagus. Kendati demikian, produk ini tahan debu serta tidak butuh waktu lama untuk dinyalakan kembali,” jelas Desmond.


Keunggulan lainnya, proyektor ramah lingkungan ini menyajikan gambar lebih tajam dengan kontras lebih baik. “Saat lampu dinyalakan, proyektor dengan intelligent light control menyesuaikan kecerahan sesuai dengan lingkungannya,” lanjutnya.


Indonesia pun sejatinya mulai mengarahkan diri menuju negara hemat energi. “Memang di seluruh Indonesia ada daerah-daerah yang belum mendapatkan akses listrik. Tetapi kita tidak hanya akan membangun pembangkit listrik melainkan juga melakukan konservasi dan penghematan listrik,” cetus  Kepala Clearing House Lintas EBTKE (Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Agung Feinnudin.


Demi menghemat energi , belakangan ini mulai ditugaskan auditor energi untuk menekan penggunaan energi di kantor. “Di 2015 terdapat 127 orang auditor energi. Tahun ini jumlah itu meningkat menjadi 167 orang,” kata Agung.


Kementrian ESDM pun memiliki kampanye Potong 10 % untuk hemat energi. “Menghemat 10% ini lebih mudah daripada membangun sumber energi 10% karena kita membutuhkan pembangunan setara 10MW dan dana sekitar Rp450 trilyun,” ujarnya.