Kurang Dukungan Penerbit, Industri Komik Tersendat (Update)

(JAKARTA) Sepinya industri komik Indonesia, menjadi salah satu hal yang disesalkan para komikus di tanah air. Banyak penerbit dinilai kurang mendukung komikus nasional untuk mempublikasikan karyanya sehingga wajar saja sulit menyusul Jepang, yang menjadi salah satu kiblat para pecinta komik di seluruh dunia.

Hal ini dikemukakan Ockto Baringbing (28 tahun) dan Muhammad Fathanatul Haq (24 tahun), dua komikus Indonesia yang berhasil meraih penghargaan International Manga Awards, dalam kegiatan bincang-bincang “Suka Komik Bisa ke Jepang”, Selasa (16/04) di aula The Japan Foundation Jakarta.


“Potensi komikus Indonesia tidak kalah dengan Jepang atau negara lain. Namun sayangnya terbentur situasi yang tidak menguntungkan, seperti banyak penerbit yang belum bersedia membantu komikus nasional untuk menerbitkan karya mereka,” ujar Ockto.


“Banyak penerbit memang terpojok dengan biaya produksi yang tinggi karena pengaruh harga kertas semakin mahal kian waktu. Sementara belum ada jaminan karya komikus nasional dapat laku di pasaran. Wajar saja jika masih sulit memberikan kepercayaan kepada komikus pemula,” ujar Muhammad Fathanatul Haq, yang biasa disapa Matto, mendukung pernyataan Ockto.


Namun, nampaknya kesulitan ini justru mendorong banyak komikus lokal untuk mencetak karyanya sendiri, dengan penjualan seadanya. Bagi mereka bukanlah keuntungan yang dicari, tapi suatu pengakuan dari para pecinta komik, bahkan tidak jarang dari mereka yang unjuk gigi dengan mengikuti perlombaan internasional maupun nasional.


“Meskipun industri komik di Indonesia lesu, bukan berarti komikus nasional berhenti berkarya. Menurut saya, dengan mengikuti berbagai perlombaan dan berhasil memenangkannya, justru akan mengasah kemampuan para komikus dan membuka mata banyak orang, bahwa sebenarnya karya anak bangsa juga patut dihargai dan tidak kalah bagus dengan komik negara lain,” ujar Ockto, yang saat ini juga bekerja sebagai video-editor di salah satu stasiun televisi swasta.


Saat ditanya mengenai perbedaan antara industri komik di Indonesia dan Jepang, Ockto dan Matto mengungkapkan, di Jepang komik sangat mudah diperoleh, termasuk komik buatan para komikus amatir, dengan harga yang murah dan periode terbit setiap 1-2 pekan sekali.


Sementara di Indonesia, komik tertentu sangat sulit diperoleh, bahkan di toko buku besar sekalipun. Harganya pun relatif mahal, dengan periode terbit tidak menentu.

Penerbit Seharusnya Dapatkan Apresiasi


Gupta Mahendra, Editor Imprint Koloni, penerbit komik lokal dari m&c! Gramedia – GoBP mengungkapkan, dirinya kurang setuju dengan penyataan bahwa penerbit kurang membantu para komikus nasional untuk mempublikasikan karya mereka.


Nyatanya, saat ini ada Koloni yang telah menerbitkan puluhan judul komik lokal sejak tahun 2009. Tidak hanya Koloni, ada juga KPG, atau Cendana Art Media, bahkan kini banyak penerbit digital, sehingga semakin banyak komikus lokal yang dapat mengekspresikan karyanya.


“Sejujurnya, penerbit cetak mengambil risiko terbesar dalam bekerjasama dengan komikus lokal untuk berupaya memajukan scene komik lokal dan tentu mengetip sedikit keuntungan. Jadi sebetulnya kurang tepat bila dikatakan belum banyak membantu. Saya pribadi menilai sekarang sudah cukup banyak penerbit yang bisa menjadi wadah komikus Indonesia berkarya,” ujar Gupta, dikutip melalui email yang diterima HaloJepang!


Soal harga produksi yang masih terasa mahal, menurut Gupta tidak hanya dialami bisnis buku, namun juga jadi kenyataan berbisnis di Indonesia. Tambah lagi dukungan pemerintah yang dinilai kurang karena tidak adanya koordinasi antara satu kementrian dengan kementrian lain.


“Contohnya, di satu sisi, pemerintah mendorong pertumbuhan bisnis kreatif, namun di sisi lain pajak digeber habis. Untuk sekedar tahu, royalti komikus itu lebih dari 30% bila punya NPWP dan 15% bila punya NPWP. Tak peduli pendapatannya hanya 100 ribu rupiah. Kalau terlambat melaporkan pendapatannya pun dikenakan denda lagi. Kami yang menjalani bisnis dunia cetak, tidak bisa berkelit dari persoalan ini. Mungkin berbeda dengan teman-teman yang lingkupnya di perusahaan kecil atau di dunia digital, yang mungkin masih bisa tidak disiplin soal pajak. Jadi dengan segala keterbatasan ini, saya tahu persis risiko penerbit cetak, dan sudah sepantasnya diapresiasi,” tambah Gupta.


Namun diakui Gupta, komikus di era sekarang patut bersyukur karena dapat lebih mengekspresikan karyanya, terlebih semakin banyak penerbit digital yang bermunculan, seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Menurutnya, tidak hanya lomba, industri juga siap menampung karya komikus lokal, sepanjang karya mereka sesuai dengan kebutuhan pembaca Indonesia secara umum, bukan ketertarikan pembaca tertentu.


Saat diminta komentarnya mengenai kekurangan serta saran bagi komikus lokal, Gupta mengungkapkan para komikus masih harus banyak memperbanyak "jam terbang" untuk bisa punya karya yang bersaing dengan karya terjemahan.


“Oleh karena itu kami pun mengarahkan, terutama pada komikus muda, untuk menajamkan kemampuan mereka untuk "bertarung" di situs web seperti ngomik.com atau komikoo.com. Ini ditempuh sebagai pengganti media majalah komik, yang populer di Jepang, namun entah kenapa tidak di Indonesia,” ujar Gupta.


Selain itu, dirinya menambahkan, dari sisi artwork, komikus harus total bila memang mau mengadopsi gaya manga. Sama seperti seniman manhwa yang total menyerap gaya manga untuk menembus industri Jepang. Karena alih-alih membaca "manga palsu" (cergam dengan visualisasi gaya manga dengan kualitas setengah-setengah), pembaca akan memilih manga terjemahan yang sudah jelas.


“Masalah lain adalah konsistensi komikus. Banyak juga komikus yang saat permintaan baginya tinggi, malah semangatnya turun atau beralih profesi. Padahal memang saat kita bicara komik di Indonesia, sulit kalau berharap hitungan honor. Paling tidak saat ini. Kendala lain, dari sisi cerita. Masih sedikit komikus yang bisa menulis cerita dengan teknik yang baik,” ujar Gupta. “Sebetulnya potensi untuk bisa jadi tuan rumah di negeri sendiri sudah lebih baik dari sebelumnya. Apresiasi ke karya lokal makin bertumbuh. Saran untuk para komikus, buatlah karya sebaik mungkin, terutama menyasar selera pembaca Indonesia. Terus berdiskusi dengan editor komik atau komunitas komik, serta menggunakan internet lebih dari sekadar membaca komik scanlation. Saat permintaan banyak, otomatis penerbit akan menyambut positif. Biarlah karya yang bicara. Bukan promosi yang heboh.”