Pengasuh Lansia Asal Indonesia Hadapi Rintangan Bekerja di Jepang

(JAKARTA-Indonesia) Ratusan calon pengasuh lanjut usia asal Indonesia berdatangan ke Jepang dibawah program kerja magang, namun hanya satu dari tiga calon yang lulus dalam ujian nasional.

Sejumlah calon pengasuh lansia asal Indonesia yang telah kembali ke rumah, mengeluhkan rintangan bekerja di Jepang, khususnya dengan perusahaan pengelola panti jompo yang mempekerjakan mereka sebagai tenaga magang.

Para ahli Jepang yang terus memantau isu itu menyatakan, otoritas berwenang di Jepang perlu melakukan peninjauan atas program magang bagi perawat lansia dari luar negeri di Jepang, yang telah berjalan empat tahun.

Pemerintah Jepang telah menerima penempatan calon perawat dan pengasuh lansia dari Indonesia dan Filipina sejak tahun 2008, yang selanjutnya dilatih dan bila berhasil lulus ujian nasional, mereka seterusnya akan bekerja di Jepang.

Calon pengasuh lansia asing diperbolehkan untuk mengikuti ujian nasional, setelah bekerja magang selama tiga tahun di panti jompo.

Menurut Japan International Corporation of Welfare Services (JICWELS), badan pemerintah Jepang yang mengelola perekrutan calon perawat dan pengasuh lansia asing, dari 94 orang warga Indonesia yang mengikuti ujian nasional pengasuh lansia pertama pada bulan Januari silam, 35 orang berhasil lulus.

Sementara, dari 20 orang calon pengasuh lansia yang gagal lulus ujian, memutuskan tetap bertahan di Jepang, dan sekitar 50 orang telah kembali ke Indonesia, termasuk 10 diantaranya yang lulus ujian.

Salah satu diantaranya seorang perempuan mantan calon pengasuh lansia berusia 27 tahun yang tinggal di Serang, Banten, baru mengetahui kalau dirinya lulus ujian nasional setelah pulang ke Indonesia pada akhir Februari.

Bersama 103 orang calon pengasuh lansia lainnya, dirinya tiba di Jepang pada bulan Agustus 2008, setelah terlebih dahulu menyelesaikan kursus bahasa Jepang selama enam bulan, dan selanjutnya ditempatkan di panti jompo di Jepang Tengah.

Dan sebelum diumumkannya hasil ujian nasional pengasuh lansia, penyelianya di Panti Jompo menyatakan kotrak kerjanya telah habis.

Kepada Kyodo News, dirinya meminta kepada penyelianya agar diperbolehkan terus bekerja sampai hasil ujian di umumkan. Namun tidak ada jawaban dari pengelola panti jompo.

"Tidak ada penjelasan mengenai kontrak atau jawaban atas permintaan untuk tetap tinggal, maupun dari penyelia atau JICWELS," ujarnya.

Menurutnya, akan terus bekerja di Jepang jika diminta untuk tetap tinggal oleh panti jompo tempatnya bekerja.

Ono Shun, profesor di Universitas Seisen, menilai kesalahan komunikasi, dan kurangnya tindak lanjut dari JICWELS menjadi masalah bagi para calon pengasuh lansia asal Indonesia.

"JICWELS memiliki bagian yang menanggapi pertanyaan publik, namun kebanyakan yang muncul yakni kasus salah komunikasi dan kurangnya tindak lanjut," ujarnya.

Menurut Ono, pengelola panti jompo di Jepang harus meninjau ulang perlakuan terhadap calon pengasuh lanjut usia asing, sementara JICWELS harus memberikan panduan yang memadai kepada pengelola panti jompo.

Berdasarkan data JICWELS, ada sekitar 500 orang calon pengasuh lansia yang sekarang kerja magang di Jepang. (KN/Arry)