Peserta Jenesys 2.0 Pelajari Penanganan Sampah di Kyushu


(Jakarta) Rombongan pertama Jenesys 2.0 yang berada di Kyushu pada tanggal 1 hingga 6 April silam mengikuti kunjungan ke pusat daur ulang sampah. Pada kegiatan ini, mereka mendapatkan wawasan baru seputar penanganan sampah.

“Pengolahan sampah di Jepang hampir zero waste, nyaris tidak ada yang tersisa,” ungkap Sumadianto Eka Putra, peserta asal Universitas Gadjah Mada (UGM).


Eka, peserta grup sains dan teknologi mendapat kesempatan mengunjungi wilayah Kyushu. Salah satunya mengunjungi pusat daur ulang, Recycle Center di Prefektur Oita. Di tempat ini ia dan dua teman lain dari UGM mempelajari bagaimana sampah dipilah menjadi 25 jenis sampah dan diolah kembali.


Bukan hanya mempelajari penanganan sampah dari sisi teknologi. Grup sains teknologi juga mempelajari bagaimana strategi pemerintah Jepang sehingga berhasil mengatur warganya melakukan pemilahan.

Ternyata sosialisasi sampah telah dimulai cukup lama, sejak tahun 1993. Bukan hanya membuat peraturan, tapi pemerintah daerah juga menjelaskan apa nilai tambah pemilahan sampah. Inilah yang kemudian membuat masyarakat sadar dan turut memilah sampah rumah tangga.

Sementara itu, di tempat terpisah peserta dari grup budaya dan seni mendapatkan pengalaman mengunjungi kota tua, Nara di wilayah Kansai. Di sana mereka mengunjungi kuil tua Todaiji yang terkenal dengan rusa-rusanya yang jinak. Selain itu, rombongan juga mendatangi Doshisha University.

“Generasi muda Jepang sebenarnya memiliki masalah sama dengan di Indonesia yakni tidak terlalu tertarik dengan seni tradisi, contohnya tidak bisa memakai kimono. Ini karena tak pernah diajarkan orangtuanya,” ungkap Devina Sofiyanti, peserta asal Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Devina menyimpulkan fakta itu setelah berdiskusi dengan mahasiswa The Institute for the Liberal Arts, Doshisha University. Pada diskusi bertema ‘How to Preserve Our Culture,’ diketahui bahwa di Jepang-negara yang kental dengan tradisi- pun generasi mudanya lebih tertarik ke budaya modern termasuk dalam hal makanan.

Tak melulu mengikuti program terjadwal dan formal, peserta Jenesys juga diajak menyelami kehidupan sehari-hari Negeri Sakura melalui kegiatan home visit. Peserta mengunjungi rumah warga dan berinteraksi langsung dalam kegiatan keseharian.

Fatmawati Indah Purnama Sari, mahasiswa UI mengungkapkan, “Kegiatan ini menurut saya paling berkesan. Mereka menyambut kami dengan baik dan bahkan mengajak berbelanja bersama. Meskipun hanya 5 jam, ketika pamitan kami sampai menangis.”

Peserta grup wilayah Chubu ini pun belajar langsung bagaimana orang Jepang menghargai waktu dalam interaksi yang singkat ini.




Banner