Kota Kyoto Dalam Lukisan Cat Air Ichsan Harja
Sabtu, 29 September 2012 00:41
(Jakarta-Indonesia) 29 lukisan pemandangan kota dan bangunan tradisional Kyoto, karya Ichsan Harja, mulai 26 September hingga 9 Oktober dipamerkan di Japan Foundation (JF) lantai 2, Gedung Summitmas 1, Jakarta Selatan.
Ichsan Harja merupakan seorang seniman lukisan cat air asal Bandung, yang menganggap melukis sebagai hobi untuk melampiaskan jiwa seni dan ketertarikannya terhadap bangunan-bangunan tua, namun kesehariannya, Ichsan bekerja sebagai seorang arsitektur di Bandung.
Ke-29 lukisan cat air yang dipamerkan, menampilkan kota Kyoto yang dipenuhi bangunan-bangunan tradisional Jepang dan pemandangan saat musim semi, musim salju dan saat hujan.
Tidak hanya menampilkan kota Kyoto, salah satu lukisan berjudul “Farewell to The Sun” menggambarkan pemandangan musim semi kuil Hasedera, Prefektur Nara yang diambil dari atas bukit.
“Saya sengaja melukisnya dengan ukuran besar, karena pemandangannya sangat indah. Kalau gambarnya kecil nanti keindahan pohon sakuranya tidak kelihatan”, ungkap Ichsan.
Ichsan menyatakan, ke-29 lukisan yang dipamerkan di JF memiliki pemandangan yang bagus, unik dan sebagian besar berhubungan dengan sejarah, seperti “Jidai Samurai”, lukisan salah sorang peserta Jidai Matsuri di Kyoto yang mengenakan kostum samurai jaman Edo dan “Kiyamachi at Night”, lukisan jalan Kiyamachi yang dibangun pada jaman Edo untuk memfasilitasi industri kayu pada masa itu.
“Selain pemandangan yang indah, sebagian besar lukisan saya juga berhubungan dengan bangunan tua. Salah satu alasannya karena saya pencinta bangunan tua. Awalnya saya memilih kota Kyoto juga karena di sana banyak terdapat bangunan tradisional yang masih terawat baik hingga sekarang”, ungkapnya.
Pada tahun 2009, Ichsan mengirimkan proposal karya lukisannya ke Nippon Foundation berhasil memperoleh beasiswa Asian Public Intelectual (API) yang ditujukan untuk tenaga profesional di bidang media massa, artis, dan pemimpin lembaga sosial kemasyarakatan. Selama setahun di sana, Ichsan mengaku belajar banyak tentang arsitektur bangunan tradisional Kyoto dan ingin memperlihatkan keindahan bangunan tua kepada masyarakat Indonesia.
“Rumah tradisional di Indonesia banyak yang terbengkalai, padahal itu merupakan identitas budaya, dan seharusnya kita bangga dengan keanekaragamannya. Di Jepang, mereka sangat menjaga bangunan tradisional. Sehingga melalui lukisan ini, saya ingin masyarakat Indonesia menyadari kalau bangunan tua dan tradisional itu memiliki keindahan dan merupakan aset yang sangat berharga.”
Rencananya, karyanya selama setahun di Kyoto,akan dibuat ke dalam bentuk buku. “Tapi itu nanti setelah laporan saya selesai. Saya memang punya cita-cita untuk menerbitkan buku itu di Kyoto”, ujarnya. (AV)
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|