Galeri Asal Tokyo dan Osaka Hadir Dalam Bazaar Art Jakarta
Senin, 29 Agustus 2016 19:07
(Jakarta) Bazaar Art Jakarta, Pameran karya seni yang diselenggarakan di Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta Selatan ditutup pada Minggu (28/08). Dalam pameran yang diikuti 42 booth dari galeri seluruh dunia dan dikunjungi sekitar 10 ribu pengunjung.
Dari Jepang, ada tiga galeri yang ikut serta, berasal dari Tokyo dan Osaka yang tergabung dalam booth LSD yang memamerkan ukiran dan aksesoris, mendapatkan apresiasi dan didatangi banyak pengunjung setiap harinya.
“Ini merupakan pameran ketiga saya tahun ini, tapi dari segi penjualan ini yang paling sulit,” ujar Iwagami Ryotaro (43) pengelola galeri YOD yang berlokasi di Kita-ku, Osaka. Ia menambahkan bahwa hal tersebut disebabkan oleh adanya acara serupa yaitu Art Stage Jakarta 2016 yang diselenggarakan pada tanggal 5-7 Agustus di Hotel Sheraton Grand Jakarta, sehingga kolektor yang datang terbagi.
Selain Iwagami Ryotaro, seniman lain yang tergabung dalam LSD adalah Ishizaka Tetsuo yang merupakan pengelola galeri Émigré yang berlokasi di Meguro, Tokyo. Dalam pameran itu, selain menampilkan karya seni yang dibuatnya sendiri, ia juga memamerkan lukisan pelukis muda Akaike Akito.
“Saya berniat memamerkan karya pelukis muda agar namanya lebih dikenal. Selain itu dalam pameran ini aksesoris yang paling banyak terjual karena relatif mudah untuk dibeli. Mulai tahun depan saya harus memikirkan bagaimana cara menyelenggarakan pameran serta cara untuk meningkatkan penjualan,” ujar Ishizaka Tetsuo.
Terakhir, seniman yang tergabung dalam LSD adalah Kogure Hiroshi (53) pemilik Gallery Kogure yang berlokasi di Kandajinbocho, Tokyo, mengatakan pelanggannya yang berasal dari Indonesia lambat laun semakin meningkat.
“Indonesia adalah negara yang menarik karena penduduknya banyak dan terdiri dari beragam suku. Selain itu kolektor dan seniman di Indonesia juga banyak. Hanya saja, seperti Jepang, mereka cenderung menyukai hasil karya buatan negeri sendiri. Dalam karya yang dipamerkan booth-booth lain pun banyak karya seni yang jelas disukai oleh orang Indonesia. Rasa dan keindahan wabi-sabi atau ketidaksempurnaan, yang merupakan karakteristik seni Jepang agaknya tidak tersampaikan,” ujarnya.
Beberapa galeri bergabung dalam satu stand saat pameran adalah hal yang sangat jarang terjadi, ungkap Kogure. Namun saat ini industri seni di Jepang sedang mengalami penurunan. Oleh karena itu, mereka bersatu dalam pameran tersebut dan berniat menyampaikan keindahan seni Jepang melalui karya seni masing-masing.
“Mulai saat ini sepertinya kami harus mengadakan pameran yang terdiri atas galeri-galeri lokal. Kami harus terus menyampaikan daya tarik karya seni Jepang melalui acara seperti ini. Saya rasa ini adalah investasi yang penting. Kami harus terus mengadakan pameran tanpa memperdulikan berapa keuntungan yang kami dapatkan,” ujar Kogure sambil tertawa.
| < Sebelumnya |
|---|
