Penguatan Yen Terus Berlanjut, Bisa Picu Pemindahan Operasi Perusahaan Jepang Keluar Negeri

(Tokyo-Jepang) Sejumlah perusahaan manufaktur utama di Jepang, Rabu (13/07) mengungkapkan kekhawatiran yang mendalam atas kenaikan nilai yen ke kisaran 78 yen per dolar AS, dan menyatakan mereka terpaksa memindahkan lebih banyak operasi manufakturnya ke luar negeri.

"Di kisaran 78 atau 79 yen per dolar, akan menyulitkan bagi para perusahaan manufaktur untuk terus melanjutkan operasinya di Jepang," ujar Yamada Yoshihito, Presiden Direktur Omron Corp.

Sementara Ogura Akio, Presiden Komisaris Bando Chemical Industries Ltd menyatakan, "Penguatan nilai yen, akan berdampak negatif bagi industri domestik, dan saya ingin pemerintah membendung penguatan yen."

Sedangkan Presiden Direktur Mitsubishi Plastic Inc menyatakan, "Saat ini perusahaan menghadapi iklim bisnis yang sukar, karena untuk tahun fiskal 2011 telah mengasumsikan nilai tukar sebesar 90 yen per dolar AS."

Para pengamat memperkirakan, kenaikan lanjutan yen bisa berdampak negatif pada daya saing perusahaan manufaktur Jepang di tingkat internasional, dan juga penerimaan.

Menurut Daiwa Institute of Research, kenaikan 10 yen terhadap dolar AS, dapat mengakibatkan turunnya nilai produk domestik bruto sebesar 0,6 persen poin pada tahun fiskal 2012.

Sementara Shiga Toshiyuki, Ketua Umum Asosiasi Produsen Mobil Jepang (Nihon Jidousha Kougyou Kai/JAMA), dan Nishihara Koichiro, Ketua Umum Konfederasi Serikat Pekerja Otomotif (Jidousha Sou Ren/JAW) mendesak pemerintah untuk mengambil tindakan cepat untuk menanggapi tren penguatan yen.

"Saat ini, situasinya sudah diluar kemampuan kami, untuk membatasinya seperti dengan melakukan pemangkasan biaya," ungkap pernyataan bersama yang dikeluarkan JAMA, dan JAW.

Sedangkan Kumagai Mitsumaru, kepala ekonom the Daiwa Institute of Research menjelaskan, ada sedikit kemungkinan penguatan yen saat ini akan berlangsung lama, dan dampak negatifnya bagi ekonomi Jepang cukup terbatas.

"Namun, ada kemungkinan industri manufaktur Jepang akan berkurang untuk jangka panjang," ujar Kumagai, sambil menambahkan sejumlah langkah yang diambil, seperti pelonggaran kebijakan moneter oleh Bank Sentral Jepang mungkin diperlukan bila nilai yen terus menguat. (YD/KN)