JICA & Bappenas Bahas Sistem Jaminan Sosial Masyarakat Indonesia

(Jakarta-Indonesia) Japan International Cooperation Agency (JICA) bekerjasama dengan Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas), Selasa (26/07) di Hotel Nikko, Jakarta Pusat, menyelenggarakan seminar mengenai sistem jaminan sosial di Indonesia.



Seminar dihadiri sekitar 90 peserta, serta tiga orang pembicara, yaitu Profesor Tajika Eiji dari Fakultas Ekonomi Universitas Hitotsubashi, Profesor Hiroi Yoshinori dari Fakultas Hukum dan ekonomi, dan Fachmi Idris, salah seorang anggota National Social Security Council, guna membahas kelanjutan perbaikan sistem jaminan sosial di Indonesia melalui metode uji coba dan kesalahan (trial and error).



Dalam seminar ini, Fachmi Idris mengulas topik 'Reformasi jaminan kesehatan dan hari tua di Indonesia', dengan membahas ketentuan konstitusi dan hukum keamanan masyarakat. Reformasi program jaminan sosial telah dimulai dengan terbitnya Undang-Undang No. 40 Tahun 2004, pada tanggal 29 Oktober 2004.



Lebih lanjut, Fachmi juga menjelaskan mengenai rencana pemerintah yang mewajibkan warganya untuk memiliki asuransi kesehatan mulai tahun 2014.



Indikator reformasi berdasarkan UU SJSN (Sistem Jaminan Sosial Nasional) mencakup, perubahan paradigma kata bantuan sosial menjadi 'jaminan sosial', dengan skala prioritas program kecelakaan kerja, jaminan hari tua, kematian, dan pensiun.



Jaminan sosial yang dimaksud akan memberikan jaminan kebutuhan dasar hidup yang layak bagi setiap anggota keluarga, dengan membayar iuran. Sementara, bagi fakir miskin dan penyandang cacat, iurannya tetap dibayar pemerintah.



Sementara, Profesor Tajika menjelaskan mengenai pembentukan sistem pensiun publik pada ekonomi di negara berkembang, serta perumusan kebijakan dana pensiun, sekaligus memperkenalkan sistem pensiun di Jepang, pertumbuhan jumlah populasi lanjut usia, dan perubahan rata-rata premi asuransi.



Tidak hanya itu, Tajika juga menerangkan kondisi Jepang saat ini, misalnya resiko usia hidup yang panjang, seperti kesulitan keluarga untuk merawat, dan prediksi demografi Indonesia.



Sementara, Profesor Hiroi membahas mengenai pengembangan dan hasil evaluasi sistem kesehatan, serta jaminan sosial di Jepang. "Jepang merupakan negara dengan jumlah penduduk berusia tua, namun GDP rata-rata biaya medis rendah, dan menjelaskan karakteristik sistem perawatan medis di Jepang," ujar Hiroi. (II/JS)