Yanai Tadashi & Mimpi Uniqlo Menguasai Dunia
Rabu, 23 Januari 2013 00:15
(JAKARTA – Indonesia) Hiroshima, kota terbesar di bagian barat Pulau Honshu mungkin lebih dikenal sebagai kota industri daripada kota fesyen. Namun justru dari sinilah lahir Uniqlo, perusahaan ritel pakaian terbesar Jepang. Yanai Tadashi adalah orang di balik kesuksesan bisnis pakaian yang berhasil mengantarkannya menjadi orang berkantung terdalam di Negeri Sakura dengan kekayaan mencapai 10 miliar dolar AS.
Awalnya, pria kelahiran 1949 ini mewarisi toko pakaian khusus pria dari ayahnya. Yanai muda waktu itu kerap mengunjungi toko pakaian pria Barney di New York untuk mempelajari kiat pemasaran dan ekspansi produk. Awalnya toko di AS ini menjual pakaian pria lalu pakaian olahraga dan baru belakangan menjadi spesialis pakaian wanita. Pada 1984, Yanai Tadashi mendirikan toko sendiri di Hiroshima dengan nama Unique Clothing Warehouse, cikal bakal dari Uniqlo.
Tak seperti pengusaha Jepang kebanyakan, Yanai berani mengambil risiko. Hanya dalam waktu singkat, antara 1991 hingga 1992, ia telah membuka 33 toko Uniqlo di Jepang. Jumlah itu terus bertambah menjadi 100 gerai di seluruh penjuru Jepang pada 1994.
Perusahaan ini mendapat momennya ketika terjadi krisis ekonomi di akhir 90an, saat banyak orang mencari pakaian berkualitas dengan harga murah. Ketika itu, Uniqlo mengembangkan versi murah dari jaket populer produksi North Face dan Patagonia.
Tak hanya seorang pengambil risiko, Yanai juga sosok yang gemar belajar dari pesaingnya. Pada 1997, Uniqlo mengadopsi strategi dari peritel AS The Gap, Inc., dengan sistem SPA (specialty-store/retailer of private-label apparel), yang berarti produksi dilakukan sendiri dan dijual secara ekslusif. Dengan strategi ini keseluruhan proses dapat dikontrol efisiensinya sehingga harga jual dapat ditekan.
Pria 63 tahun ini kerap mengambil langkah berbeda dari pesaingnya. Jika yang lain banyak mengeluarkan produk sesuai tren dan dalam jumlah terbatas, Uniqlo lebih suka mengusung produk yang sifatnya kembali ke dasar, menghilangkan berbagai hiasan dan lebih berorientasi fungsi. Proses pembuatannya juga dilakukan secara massal sehingga harga dapat ditetapkan serendah mungkin.
Falsafah yang dipegang Uniqlo dalam mengembangkan lini pakaian adalah shun dan kino-bi. Shun berarti waktu yang tepat atau sesuai tren sementara kino-bi bermakna fungsi dan keindahan. Kedua kata itu mewakili fesyen Jepang yang modern.
Walau berkembang pesat, bisnis anak perusahaan Fast Retailing Co. ini bukan tanpa kegagalan. Ketika membuka gerai di Inggris, penjualannya tak terlalu bagus sehingga labanya turun drastis. Namun, hal ini tak menghentikan Yanai untuk terus berekspansi ke luar negeri. Bahkan setiap diwawancara, pria berkacamata ini mengatakan ingin menjadi yang terbaik, mengalahkan pesaing papan atas seperti GAP dan H&M.
Sampai November 2012, Uniqlo telah memiliki 347 gerai di berbagai kota di dunia yang menyumbangkan 22 persen pendapatan total. Gerainya ada di Cina, Perancis, Hong Kong, Malaysia, Filipina, Rusia, Singapura, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, Inggris dan AS.
Tak berhenti di situ saja, mimpi Yanai Tadashi adalah membuat Uniqlo menjadi merek yang mendunia sebagaimana Coca-Cola atau McDonald. Hal ini akan menjadikannya wakil generasi pengusaha Jepang yang sanggup menantang risiko dan berorientasi global. Rencananya, tahun ini Uniqlo juga akan membuka gerai di Indonesia.(BN)
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|
