Tankan : “Sentimen Perusahaan Manufaktur Besar Memburuk”

(Tokyo) Sentimen bisnis diantara perusahaan manufaktur besar sedikit memburuk, dan sebagian memproyeksikan situasinya akan semakin memburuk, ungkap hasil survei Bank of Japan Tankan yang diumumkan Senin, menggarisbawahi tantangan situasi ekonomi yang dihadapi Perdana Menteri Abe Shinzo sehari setelah kemenangan kubu yang berkuasa dalam Pemilihan anggota Majelis Rendah.


Indeks kunci yang mengukur kepercayaan bisnis perusahaan manufaktur besar berada di level plus 12 pada bulan Desember, turun dari plus 13 pada polling bulan September, yang menyusut akibat naiknya harga barang impor dipicu oleh melemahnya nilai yen, ungkap survei yang dilaksanakan selama satu bulan sampai 12 Desember.


Indeks semakin memburuk untuk pertama kalinya sejak survei dilaksanakan pada bulan Juni, terseret memburuknya sentimen di sektor kertas dan bubur kertas serta sektor produk kayu dan kayu gelondongan.


Sementara untuk perusahaan non manufaktur besar indeks sentimen naik menjadi plus 16 dari sebelumnya plus 13, kenaikan pertama dalam tiga kuartal terakhir, dipicu sektor grosir, dan akomodasi, jasa makanan dan minuman yang menunjukkan kepercayaan bisnis yang tinggi akibat dari depresiasi nilai yen.


Namun data juga memperingatkan prospek, baik perusahaan kecil maupun besar di semua industri mengisyaratkan memburuknya bisnis dalam beberapa kuartal kedepan.


“Timbul kekhawatiran terhadap prospek karena ketidakpastian semakin meningkat akibat melemahnya yen dan turun drastisnya harga minyak mentah,” ungkap pejabat Bank of Japan, menambahkan hasil survei menunjukkan dampak campuran dari depresiasi yen.


Di sisi lain pelemahan yen merupakan keuntungan bagi para eksportir, yang membuat produk Jepang lebih bersaing harganya di luar negeri dan meningkatkan laba yang didapat di mancanegara. Serta meningkatkan permintaan perjalanan wisata di Jepang.


Namun sisi negatif dari perkembangan terkini depresiasi yen mengakibatkan sejumlah usaha yang membuat bahan produksi terkena dampak kenaikan harga barang impor.


“Perusahaan kecil dan khususnya perusahaan non manufaktur sangat khawatir terhadap dampak pelemahan yen, lesunya permintaan domestik pasca kenaikan pajak konsumsi pada bulan April dan perlunya mengurangi persediaan,” ujar Makino Junichi, ekonom kepala di SMBC Nikko Securities Inc.


Indeks untuk perusahaan manufaktur kecil naik 2 poin menjadi plus 1, sementara untuk perusahaan non manufaktur kecil turun menjadi minus 1 dari sebelumnya 0.


Indeks difusi mewakili persentase perusahaan yang melaporkan menyukai situasi bisnis dikurangi persentase perusahaan yang melaporkan kondisi bisnia yang tidak mendukung.


BoJ melaksanakan survei terakhir disaat yang rumit yakni ketika Pemerintah mengumumkan produk domestik bruto periode Juli-September, yang berkontraksi dalam dua kuartal berturut-turut, karena kenaikan pajak berlanjut membebani belanja konsumsi rumah tangga.


BoJ mengejutkan pasar pada akhir Oktober dengan mengumumkan langkah stimulus guna mengangkat ekonomi. Keputusan itu menimbulkan gelombang pasang di pasar saham dan memperkuat nilai dolar Amerika Serikat terhadap yen, dan dolar sempat mencapai level tertinggi dalam tujuh tahun dan empat bulan.


Selanjutnya, BoJ berencana menlaksanakan Rapat Dewan Kebijakan Moneter selama dua hari mulai Kamis untuk membahas apakah akan melanjutkan kebijakan terakhir.


Langkah pelonggaran moneter secara drastis BoJ merupakan bagian dari upaya kebijakan ekonomi Perdana Menteri Abe Shinzo, yang diharapkan akan terus maju dengan berbagai kebijakan, setelah kubunya menang dalam pemilihan anggota Majelis Rendah pada hari Minggu (14/12).


Perusahaan besar di semua sektor industri berencana menaikan belanja modal rata-rata 8.9 persen pada tahun fiskal 2014, lebih tinggi dibanding perkiraan awal yang sebesar 8.6 persen.


Namun perusahaan secara keseluruhan khawatir terhadap prospek bisnis usahanya, dengan indeks baik untuk perusahaan manufaktur kecil dan besar serta perusahaan non manufaktur semuanya memperkirakan penurunan pada bulan Maret 2015 sebesar satu sampai enam poin.


“Perusahaan kemungkinan terlalu berhati-hati karena tekanan harga diperkirakan akan semakin melonggar akibat penurunan harga minyak,” ujar Makino.