PM Noda Gelar Buka Puasa Bersama dengan Perwakilan Negara Islam di Jepang

(TOKYO-Jepang) Perdana Menteri Jepang Noda Yoshihiko, Rabu (01/08), menyelenggarakan acara Iftar (jamuan berbuka puasa di bulan suci Ramadan) di kantornya, dengan mengundang 41 perwakilan negara Islam yang berada di Tokyo, guna mempererat hubungan persahabatan serta meningkatkan rasa saling pengertian antara Jepang dengan negara Islam.

Dalam pidatonya, PM Noda menyatakan acara Iftar merupakan kesempatan berharga karena dapat mengenali satu sisi tradisi Islam, “Ini diharapkan akan mendorong saling pengertian antara Jepang dan dunia Islam yang telah berkembang.”


Noda juga menyebutkan bahwa salah satu alasan Islam dapat diterima di negara lain karena adanya semangat toleransi akan keanekaragaman, "Maka dengan acara ini, saling pengertian antara peradaban yang berbeda dan toleransi akan keanekaragaman semakin bertambah penting bagi realisasi perdamaian dan stabilitas dunia.”


Dalam acara ini, Indonesia diwakili oleh Wakil Duta Besar untuk Indonesia Jonny Sinaga, serta Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin, yang memang mendapatkan undangan khusus dari PM Noda, sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia, serta Presiden Asian Conference of Religions for Peace (ACRP) yang berpusat di Tokyo.


“Undangan buka puasa bersama ini memang sudah digelar Jepang sejak 10 tahun yang lalu, rutin setiap tahun. Namun, keistimewaannya pada tahun ini, setiap negara diajak berpartisipasi untuk menyediakan makanan khas dari negaranya masing-masing. KBRI pun ikut serta menyediakan makanan khas Indonesia, seperti rendang, sate ayam, dan es cendol,” ujar Jonny, yang dihubungi Halo Jepang! Jumat (03/08) melalui sambungan telepon.


Lebih lanjut, Jonny juga memaparkan suasana acara buka puasa bersama pada Rabu malam silam, yang ternyata juga dihadiri Matsushita Tadahiro, Wakil Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (Keizai Sangyosho) yang pernah bertugas di Indonesia.


“Bapak Matsushita menceritakan banyak hal kepada saya dan Pak Din, sewaktu dirinya diutus membantu Kementerian Pekerjaan Umum Indonesia 40 tahun silam. Saat itu Menteri Pekerjaan Umum dijabat oleh Ir. Sutami,” ungkap Jonny. “Meskipun sudah berusia lanjut dan tidak lagi tinggal di Indonesia, saya kagum ternyata beliau masih ingat Bahasa Indonesia.”


Dalam kesempatan yang sama, Jonny juga menjelaskan Duta Besar Jepang untuk Indonesia M. Lutfi berhalangan hadir, karena sedang berada di Jakarta untuk memfasilitasi hubungan kerjasama BNI dengan Japan Regional Bank (JRB), dan akan kembali untuk menemani Din Syamsudin menghadiri Summit of World Religious Leaders di Kyoto.


Rencananya, pada Sabtu (04/08) pagi, Din akan menjadi pembicara dalam Summit of Religious Leaders di Kyoto, dan membahas tentang tokoh agama dalam menghadapi kecelakaan tenaga nuklir dan bencana alam.


Menurut Din, Jepang dan Indonesia perlu meningkatkan kerjasama menghadapi pergeseran pusat gravitasi ekonomi dunia ke Asia Timur. Jepang memiliki kemajuan ekonomi dan iptek, sedangkan Indonesia punya kekayaan sumber daya alam. Jika keduanya dipadukan maka akan menjadi kekuatan dahsyat.


Sebelumnya, Din juga sempat bertemu dengan mantan PM Fukuda, yang juga menjabat sebagai Ketua Japan-Indonesia Association (JAPINDO) dan PM Noda secara khusus. Pada dua pertemuan itu, Din mengharapkan adanya upaya nyata peningkatan kerjasama umat Islam khususnya Muhammadiyah dengan pemerintah dan rakyat Jepang.


Din juga mengungkapkan niatnya untuk mengundang PM Noda dalam peringatan 100 tahun Muhammadiyah, yang berlangsung pada bulan November mendatang, namun PM Noda belum menyatakan kesanggupannya untuk menghadiri acara tersebut. (Nova)