Inamine & Natsir Selamatkan Jepang Dari Krisis Minyak 70-an

(Jakarta) Inamine Ichiro, mantan anggota Majelis Tinggi dari Partai Liberal Demokrat (Jimin To), merupakan salah satu politikus yang sangat berperan dalam meningkatkan hubungan persahabatan Jepang-Indonesia serta mendorong kerjasama di bidang politik dan ekonomi, baik pada masa perang Dunia ke-II dan juga setelahnya.


Inamine lahir di Prefektur Okinawa pada 23 September 1905, dan selanjutnya menempuh pendidikan tinggi di Universitas Waseda, dibawah bimbingan Profesor Nishimura Shinji, yang kemudian menjadi mertuanya, setelah menikah dengan salah satu anak perempuannya. Profesor Nishimura adalah ahli antropologi budaya yang mengklarifikasi asal usul orang Jepang.


Pada tahun 1929, atau tahun ke-4 Periode Showa, Inamine mendirikan asosiasi pemuda yang bertujuan mengkaji perdamaian di Asia, dan sebagai pengurus organisasi dirinya berkesempatan selama dua tahun melakukan kunjungan ke berbagai negara Eropa dan Amerika Serikat, dilanjutkan dengan muhibah ke berbagai negara di Asia dan Timur Tengah guna mempelajari dan memahami situasi terkini di mancanegara, yang sangat mempengaruhi cara pandangnya dalam melihat situasi global.


Setelah kembali ke Jepang, Inamine kemudian ditugaskan membuka kantor perwakilan South Manchurian Railway di Bangkok yang menangani bisnis di Thailand, Birma (kini Myanmar) dan juga Indonesia, selama 7 tahun.


Selama bertugas di Thailand, Inamine menjalin hubungan yang sangat dekat dengan Keluarga Kerajaan dan juga para pejabat penting pemerintahan, serta dari kalangan pengusaha.


Pada tahun 1944, Inamine dipindahkan ke Indonesia, dan ditugaskan menjadi Atase Angkatan Laut, selanjutnya menjalin persahabatan dengan tokoh utama pergerakan kemerdekaan Indonesia Sukarno, dan tokoh Islam Muhammad Natsir.


Setelah Militer Jepang mengalami kekalahan dari Sekutu, Inamine menyarankan agar sebagian senjata dan amunisi Jepang diserahkan secara sembunyi-sembunyi kepada pejuang Indonesia, yang digunakan untuk mendukung perang Kemerdekaan dalam menghadapi tentara Sekutu yang dipimpin Inggris.


Inamine kemudian ditangkap Militer Belanda dan dimasukan ke Penjara Glodok selama kurang lebih setahun. Di dalam penjara ini dirinya bertemu dengan Kaneko Tomokazu, mantan pimpinan tim propaganda Pemerintahan Militer Jawa, yang pada masa pascaperang menjadi Ketua Asosiasi Pejalan Jepang.


Selanjutnya Kaneko bersama Kimura Takeo, anggota Majelis Rendah yang juga berasal dari Prefektur Yamagata, dan juga Inamine, pada saat Presiden Suharto mulai berkuasa mendorong peningkatan hubungan persahabatan antara Jepang dan Indonesia, yang pemikirannya berasal dari pengalaman saat bersama-sama di Penjara Glodok.


Sementara di sisi lain Inamine terus menjalin komunikasi dengan Muhammad Natsir, yang pada masa Pemerintahan Militer Jepang, bertugas menjadi Ketua Majelis Islam A’la Indonesia yang kemudian berubah menjadi Majelis Syuro Muslimin Indonesia atau Masyumi, dan juga mewakili Indonesia di sejumlah organisasi Islam Internasional dan menjadi Wakil Ketua World Muslim Conference, yang pada Konferensi Asia Afrika pertama di Bandung pada tahun 1955 menghimbau solidaritas pimpinan negara Islam.


Pada saat terjadinya Perang Arab-Israel pada bulan Oktober 1973, para negara anggota OPEC, organisasi produsen minyak bumi sepakat mengurangi produksi minyak mentah serta melakukan embargo kepada negara pendukung Israel, yang berdampak pada kenaikan harga minyak bumi sampai 70 persen, dan menimbulkan keguncangan global.


Di Jepang, dampak dari situasi di Timur Tengah tidak menimbulkan kepanikan dan sampai dekade 80-an hal itu masih dapat dirasakan, yang didalamnya terdapat kontribusi besar dari Inamine.


Pada tahun 1950, Inamine mendirikan perusahaan bernama Ryukyu Sekiyu, dan menjabat sebagai Presiden Direktur, kemudian pada tahun 1970 pada saat menjadi anggota Majelis Tinggi, dan setelah terjadinya guncangan minyak, dirinya mengajukan permintaan kepada Presiden Soeharto, untuk meningkatkan ekspor minyak mentah ke Jepang.


Selain itu, dirinya juga berupaya mengimpor langsung minyak mentah dari Arab Saudi ke Jepang, dan untuk itu meminta bantuan teman lamanya Muhammad Natsir, yang menuliskan surat ditujukan kepada Raja Arab Saudi, yang diserahkan langsung ke Raja pada saat bertemu, yang kemudian memberikan lampu hijau untuk ekspor dikirim ke Jepang melalui Indonesia.


Inamine meninggal pada 19 Juni 1989, dalam usia 83 tahun. Mantan Gubernur Okinawa Inamine Kencihi merupakan salah seorang putranya.