Yoyogi Village : Proyek Ambisius Produser Mr. Children Untuk Pulihkan Kawasan Yang Terabaikan di Tokyo [23/12-17:32]
Terakhir Diperbaharui pada Jumat, 23 Desember 2011 21:52 Ditulis oleh Administrator Jumat, 23 Desember 2011 17:32
(Tokyo-Jepang) Terselip diantara Shinjuku, dan Harajuku, Yoyogi bukanlah kawasan di Metropolitan Tokyo yang sering dikunjungi para wisatawan, namun pada pertengahan November silam, Kobayashi Takeshi, produser grup band Mr. Children, meresmikan Yoyogi Village, yang didalamnya terdapat sejumlah restoran, kafe ramah lingkungan dan juga tempat penyelenggaraan acara, dengan harapan bisa memulihkan kawasan yang terabaikan.
"Lingkaran kecil kehidupan bisa jadi roda besar," ujar Kobayashi. "Saat ini, tidak ada visi atau filosofi didalam pemerintahan, jadi sektor swasta harus membaca ini bila ingin menjual ekologi, dan ekonomi."
Yoyogi Village merupakan proyek ambisius terkini Kobayashi yang sangat terpengaruh oleh peristiwa 11 September, dan meluncurkan berbagai prakarsa untuk mengimbangi obsesi masyarakat modern terhadap ambisi, dan materialisme dengan menyoroti nilai kesederhanaan, dan alam.
Pada tahun 2003, Kobayashi meluncurkan Artist Power (AP) Bank dengan modal awal dari tiga orang, yakni Kobayashi, musisi Sakamoto Ryuichi, dan vokalis utama Mr. Children Sakurai Kazutoshi, yang selanjutnya melakukan sejumlah investasi, seperti pendirian pertanian kapas di India, dan pertanian organik di Jepang, serta membantu meluncurkan usaha baru, dan memberikan peluang bagi artis pendatang baru.
Investasi terbaru Kobayashi lebih difokuskan pada masyarakat umum, dengan tujuan merubah persepsi yang ada bahwa barang atau makanan ramah lingkungan itu membosankan, atau hambar.
"Bila merayakan pencapaian dengan seks, narkoba, dan minum-minum, maka akan ada perang internal antara ego, dan ketamakan, karena pada saat itu anda kehilangan kendali atas visi masa depan," ujar Kobayashi. "Tapi kita tidak bisa membahas ekologi dalam nada negatif, anda seharusnya tidak menyerah untuk menikmati hidup, dan seharusnya tahu yang terbaik baik untuk dunia, dan diri sendiri."
Yoyogi Village terbagi dalam beberapa zona, antara lain Container zone yang ditempati sejumlah butik fesyen, toko buku, resto, dan kafe, agen perjalanan wisata, sementara Village zone berisi bar, ruang VIP, dan resto Code Kurkku.
Musik merupakan inti dari segalanya bagi Kobayashi, dan pasti ada dalam setiap proyek yang dilaksanakannya, seperti festival tahunan AP Bank yang diprakarsainya mulai tahun 2005.
Sementara terkait kekhawatiran terhadap tidak personalnya teknologi modern berdampak pada pengalaman mendengar musik, Kobayashi menambahkan bar musik didalam Yoyogi Village, dan berharap bisa mengirim pesan kembali ke industri musik.
"Akhir-akhir ini, musik mencapai telinga pendengar terlalu langsung, melalui headphone dan iPad, yang telah diisolasi, dan dibuat ulang secara digital," ujar Kobayashi. "Seharusnya yang didengar adalah bunyi instrumen asli, dan suara, serta terpantul melalui dinding, dan akhirnya mencapai pendengar. Sebagai manusia, kita perlu pengalaman ini."
Desain Yoyogi Village, berbentuk kapal, dan tema baharinya diperkuat dengan dek dari kayu, dan kontainer yang dapat dipindah di pintu masuk.
Setelah menjelaskan layout, Kobayashi menerangkan bahwa ruangan ini disewa untuk jangka waktu 10 tahun dengan harapan bisa membuat Village lainnya dimasa depan.
"Saya ingin menghubungkan mereka dengan pertanian organik yang kami kelola di Chiba," ujar Kobayashi. "Pastinya kami ingin pengunjung menikmati makanan, tapi juga memahami asalnya."
Pakaian yang dipajang di toko One Mile Wear terbuat dari katun organik dari ladang di India yang didukung AP Bank, dan juga kafe Roots & Beat, serta Drink & Soup Kurkku Lab, namun intinya ialah mendidik konsumen untuk bisa menelusuri asal produk.
"Kami ingin konsumen mengetahui dari mana asal produk, dan cerita yang ada dibelakangnya, serta menikmati belanja pakaian baru," ujar Kobayashi, yang bersemangat menjelaskan bahwa laba dari Yoyogi Village akan diinvestasikan kembali oleh AP Bank.
Yoyogi Village tidak membagikan laba ke anggota dewan direksi. Namun, laba disalurkan untuk membantu memberikan pendanaan bagi usaha pertanian atau restoran guna memulai siklus baru.
"Saya tidak ingin proyek ini menjadi prakarsa monster," ujar Kobayashi. "Tapi untuk menciptakan lapangan kerja bagi orang yang berkomitmen pada masa depan sirkulasi ekologi, dan kami bisa menyediakan mesin bagi mereka." (JT)
***
Yoyogi Village dibuka mulai 18 November.
Untuk informasi lebih lanjut bisa mengunjungi situs web
www.yoyogi-village (Bahasa Jepang)
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|