Ilmuwan Jepang - Indonesia Kolaborasi Kembangkan Sistem Pengelolaan Hutan Gambut
Selasa, 18 September 2012 02:30
(JAKARTA-Indonesia) Tim peneliti Jepang dan Indonesia berkolaborasi mengembangkan sistem pemetaan tanah gambut terbaru, yang nantinya dapat dimanfaatkan para ilmuwan untuk lebih akurat memperkirakan ukuran carbon reservoir (tempat penyimpanan karbon alami) di hutan gambut, dan memantau perpindahan karbon tahunan didalam wilayah tertentu, ungkap berita yang dilansir The Jakarta Post Jumat (14/09).
Osaki Mitsuru, ahli fisiologi tumbuhan dari Universitas Hokkaido menyatakan, "Sistem Pengukuran, Pelaporan, dan Verifikasi (MRV) terintegrasi, yang dikembangkan selama berlangsungnya proyek penelitian, dapat berperan dalam memulihkan dan memelihara hutan gambut tropis di Indonesia, dan para ilmuwan bisa mendapatkan data ilmiah yang lebih akurat mengenai kondisi tanah gambut, seperti kepadatan, dan ketebalannya."
"Dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi terkini, sistem ini dapat membantu pengelolaan karbon di tanah gambut daerah tropis," ujar Osaki dalam simposium internasional "Wild Fire and Carbon Management in Peat-Forest in Indonesia.
Proyek penelitian "Science and Technology Research Partnership for Sustainable Development," yang berlokasi di Kalimantan Tengah, didanai Japan International Cooperation Agency (JICA) dan Japan Science and Technology Agency (JST), yang dimulai pada bulan Oktober 2008, dan saat ini sudah memasuki tahap akhir.
"Selama berlangsungnya proyek, penelitian difokuskan pada cara merehabilitasi, menghutankan kembali, dan mengelola hutan gambut yang rusak parah akibat proyek 1 Juta Hektar," ungkap Osaki. "Guna mengelola ekosistem gambut, maka diperlukan lebih banyak data ilmiah, untuk itu kami mengembangkan sistem pengukuran yang dapat diandalkan."
Sementara, Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Lukman Hakim menyatakan, hutan gambut tropis, yang didominasi pepohonan, merupakan wadah penting bagi biodiversitas, karbon dan air.
"Hutan gambut tropis memberikan kontribusi penting untuk biodiversitas regional dan global, serta menyediaka habitat bagi spesies langka, seperti burung, ikan, mamalia, amfibi dan reptil," ujar Lukman.
Namun, dengan meningkatnya emisi karbon dioksida, Indonesia kini menghadapi tekanan untuk mengurangi pembabatan hutan, dan degradasi lahan gambut, yang berdampak signifikan pada pelepasan karbon ke atmosfir.
"Kurangnya data mengenai kebakaran hutan, dan potensi karbon di hutan gambut di Indonesia sangat berpengaruh pada upaya menghadapi perubahan iklim," ujar Lukman.
Lebih lanjut Osaki menjelaskan, dengan tersisanya waktu satu setengah tahun, maka tim gabungan dari Universitas Hokkaido, dan ilmuwan baik asal Indonesia dan Jepang saat ini masih terus mengembangkan prosedur untuk membuat sistem MRV terintegrasi untuk konservasi lahan gambut di Indonesia.