Mahasiswa UNJ Kenalkan Pernikahan Adat Jawa di Japan Foundation

(JAKARTA-Indonesia) Mahasiswa Sastra Jepang Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Kamis (22/11), memperkenalkan sistem perkawinan adat Jawa dalam kegiatan Japan-Indonesia Regional Exchange Promotion Program 2012 di Japan Foundation, Jakarta Selatan.

Dalam acara perkenalan budaya yang digelar The Japan Council of Local Authorities for International Relations (CLAIR), tiga orang mahasiswa UNJ menjelaskan urutan tata cara pernikahan adat Jawa, mulai dari “Nglamar” atau acara lamaran, “Akad Nikah”, hingga “Sawer” dengan bahasa Jepang kepada sejumlah perwakilan pemerintah kota dan prefektur Jepang yang hadir.


“Setelah mendapatkan penjelasan dari para mahasiswa, kami jadi sangat kagum dengan pernikahan adat di Indonesia, karena setiap daerah memiliki ciri khasnya tersendiri. Kami jadi ingin melihatnya secara langsung,” ujar Fujiwara Mayumi, Chief Executive Staff Tourism Department Culture and Tourism Bureau Sakai City Osaka. “Kami juga tidak menyangka, meskipun mereka masih berusia muda, mereka tetap memilih menggelar pernikahan menurut adat masing-masing dibandingkan dengan pernikahan modern.”


Selain memperkenalkan pernikahan adat Jawa, para mahasiswa UNJ juga mendapatkan penjelasan mengenai pesta pernikahan di Jepang, sehingga dapat membandingkan serta menyimpulkan persamaan dan perbedaannya dengan pernikahan di Indonesia.


“Baik pernikahan di Indonesia maupun Jepang, keduanya masih mementingkan restu dari orangtua dan upacara secara agama masing-masing,” ujar Ely Daniaty, salah seorang mahasiswi UNJ. “Bedanya mungkin pernikahan di Jepang tidak terlalu rumit dengan bermacam-macam prosesi seperti di Indonesia.”


Selain mahasiswa Sastra Jepang UNJ, mahasiswa dari Universitas Bina Nusantara (Binus), Universitas Indonesia (UI), Universitas Darma Persada (Unsada), dan Sekolah Tinggi Bahasa Asing LIA (STBA LIA), juga turut memperkenalkan budaya Indonesia dengan tema berbeda.


Mahasiswa Binus memperkenalkan perkembangan jejaring sosial seperti Facebook atau blog di Indonesia, mahasiswa UI menjelaskan budaya pop yang tersebar di Indonesia, mahasiswa STBA LIA menjelaskan bahasa asing yang dipelajari pelajar Indonesia, sedangkan mahasiswa Unsada memperkenalkan makanan Indonesia.


Setelah saling berdiskusi dan memperkenalkan budaya, masing-masing perwakilan mahasiswa dan pemerintah kota atau prefektur Jepang kemudian mempresentasikan hasil diskusi mereka.


“Program ini memang baru pertama kalinya kami selenggarakan di Indonesia, karena kami ingin lebih mengenal Indonesia. Tidak diragukan Indonesia kini menjadi sorotan banyak pihak, terlebih dengan pertumbuhan ekonominya yang relatif tinggi dibandingkan negara Asia lainnya,” ujar Komiyama Toru, Deputy Director Representative of Tokyo Metropolitan CLAIR Singapore.


Komiyama berharap, dengan saling mengenal budaya masing-masing, hubungan antar individu warga Jepang dan Indonesia dapat semakin erat, tidak hanya di bidang ekonomi tapi juga budaya dan pendidikan. (Nova)