Makanan Halal Mulai Menjamur di Jepang
Jumat, 28 Desember 2012 00:36
(TOKYO-Jepang) Kasus penjualan baso yang dicampur daging babi, hingga sekarang masih meninggalkan rasa waswas bagi sejumlah umat Muslim di Jakarta, padahal Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam yang dipercaya umat muslim di seluruh dunia untuk datang berkunjung dan menyantap hidangan kuliner khas dalam negeri. Berbeda dengan Jepang, negara yang diklaim sulit mendapatkan makanan halal.
Namun kenyataanya, kasus penjualan baso yang dicampur daging babi cukup membuat resah dan meningkatkan kewaspadaan masyarakat Indonesia terhadap makanan yang seharusnya halal. Di lain pihak, makanan halal yang selama ini sulit ditemukan di Jepang, semakin mudah diperoleh bahkan dapat dinikmati langsung di sejumlah restoran bersertifikat halal.
Sertifikat Halal diberikan Malaysia Halal Corporation yang berkantor pusat di Tokyo. Sejak tahun 2010, perusahaan yang telah diakui Badan Sertifikasi Halal Indonesia dan Malaysia ini telah memberikan sertifikat halal untuk enam hotel dan delapan restoran di Jepang.
Sertifikat diberikan setelah melalui berbagai pemeriksaan, mulai dari bahan makanan, termasuk bumbu dan bahan penyedap, serta penyajian.
Restoran yakiniku Sumiyakiya dan salah satu restoran di kawasan Roppongi, Kota Minato, Tokyo yang telah memiliki sertifikat halal, saat ini menyediakan yakiniku khusus pengunjung Muslim. Mereka meletakkan daging di alat pendingin yang berbeda serta memisahkan piring dan gelas agar tidak tersentuh daging babi atau bahan makanan non halal lain.
Pihak restoran Sumiyakiya mengaku, sejak menyajikan makanan halal, jumlah pengunjung Muslim melonjak hingga 20 persen dalam kurun waktu sembilan bulan.
Salah satu alasan sejumlah restoran mulai melirik bisnis makanan halal, dikarenakan meningkatnya jumlah wisatawan atau warga Muslim yang menetap di Jepang setahun terakhir, khususnya warga Indonesia. Berdasarkan data yang dilansir Japan National Tourism Organization (JNTO) antara tahun 2003 hingga 2010, masyarakat Muslim yang menetap di Jepang, 60 persen berasal dari Indonesia.
Sementara pada 21 Desember silam, JNTO menyatakan kunjungan warga Indonesia ke Jepang bulan November meningkat 40,5 persen atau menjadi 7,700 orang dibanding tahun lalu periode sama.
Tidak hanya restoran, usaha pariwisata Jepang nampaknya juga mulai mencoba menarik pelanggan Muslim. Miyako International Tourist Co., yang berkantor pusat di Osaka menyediakan paket tur untuk warga Muslim yang ingin berkunjung ke Jepang, disertai waktu ibadah serta daftar restoran yang menyediakan makanan halal.
“Tanpa memahami kehidupan dan kepercayaan umat muslim, masyarakat Jepang akan kesulitan mendapatkan kepercayaan mereka dan ditakutkan hal ini akan menjadi serius”, ujar Matsui Hideshi, warga Jepang penganut Islam sekaligus presiden sebuah agen perjalanan dilansir media Japantimes.
Seperti yang dikatakan Matsui, kepercayaan memang merupakan hal yang sangat penting. Jepang yang dulunya langka makanan halal, demi menanamkan kepercayaan masyarakat Muslim agar mau berkunjung dan tetap tinggal di sana, mulai mengambil langkah dengan menyediakan makanan halal yang tentunya tidak menipu pengunjung.
Hal ini juga yang diharapkan masyarakat Indonesia dan pihak Kementrian Perdagangan. Melalui situs resmi mereka meminta kepada para pedagang agar tidak menggunakan campuran daging babi untuk membuat olahan baso karena termasuk tindakan membohongi masyarakat. (AV/JT/Kemenag)
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|

