Program Magang Dokter Spesialis Indonesia di RS Toranomon Tokyo
Senin, 07 Januari 2013 00:29
(TOKYO-Jepang) Terbatasnya teknologi pengobatan dan kedokteran di negara-negara kawasan Asia Tenggara, menjadi alasan utama Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri (Keizai Sangyosho/METI) menyusun program pelatihan Japanese Council for Medical Training (JCMT) bagi para dokter, khususnya di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Program JCMT pertama kali diusulkan oleh mantan PM Ohira Masayoshi, dengan tujuan untuk menyebarkan teknik pengobatan Jepang kepada negara lain. Awalnya JCMT mendapatkan subsidi dari pemerintah melalui Kementerian Perdagangan dan Industri Internasional atau sekarang dikenal dengan MITI, sebelum akhirnya mendapat dukungan dari berbagai perusahaan swasta di Jepang.
Sejak dimulai pada tahun 1982, tercatat lebih dari 240 dokter dari 16 negara telah mengikuti program JCMT di RS Toranomon, dan telah memberikan pengetahuan baru bagi para dokter untuk mengembangkan kemampuan dan meningkatkan standar pengobatan serta kesehatan di masing-masing negara.
Di Indonesia sendiri, lebih dari 50 dokter yang tergabung dalam jaringan RS Universitas Indonesia, yakni RS Cipto Mangunkusumo, RS Persahabatan, RS Jantung Harapan Kita, dan RS Kanker Dharmais, telah mengikuti program ini.
Aida Sofiati (60 tahun), salah seorang dokter spesialis kulit di RS Kanker Dharmais, yang pernah mengikuti program JCMT, menyatakan dirinya mempelajari banyak teknik kedokteran Jepang yang belum pernah diterapkan di Indonesia.
“Saya mengikuti program JCMT dari 10 September hingga 3 November 2012. Banyak masukan yang bermanfaat dari sejumlah profesor dan dokter Jepang yang saya terima saat mengikuti program tersebut,” ujar Aida, yang juga merangkap pengajar di Fakultas Kedokteran UI. “Di Jepang kasusnya lebih banyak dibanding di Indonesia, tidak hanya itu, teknologi dan teknik yang digunakan juga berbeda, sehingga benar-benar berguna untuk mengembangkan diri.”
Aida mengungkapkan, selama di Jepang, dirinya tidak hanya belajar berbagai teknik kedokteran baru, khususnya bidang kesehatan kulit, tapi juga mengunjungi Kyoto dan Nara untuk mempelajari budaya Jepang.
“Tidak hanya teknologinya yang membuat saya benar-benar kagum terhadap Jepang, tapi juga dari budaya dan etos kerjanya yang tinggi. Tidak heran jika Jepang akhirnya menjadi sukses seperti sekarang, karena setiap penduduknya menerapkan disiplin dan etos kerja yang tinggi,” ujar Aida.
Aida menambahkan, setelah selesai mengikuti program pelatihan selama dua bulan dilaksanakan, para peserta JCMT diharuskan membuat laporan, yang nantinya akan dipresentasikan saat profesor atau dokter dari RS Toranomon berkunjung ke Indonesia.
“JCMT tidak hanya berkontribusi besar terhadap dunia kedokteran di Indonesia, tapi juga di negara-negara kawasan Asia Tenggara lainnya. Saya harap program ini dapat terus dipertahankan, khususnya untuk bidang kesehatan spesialis, yang masih sangat terbatas di Indonesia,” ujar Aida. “Melalui program ini, kami para dokter dapat lebih banyak belajar teknik baru dan kemudian membawa serta menerapkannya di Indonesia.”
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|
