Tingkat Kelulusan Pengasuh Lansia Asing Diperkirakan Naik
Selasa, 29 Januari 2013 00:39
(TOKYO) Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan (Koseirodosho), Minggu (27/01), kembali melaksanakan ujian nasional bagi calon pengasuh lansia, dan memprediksi tingkat kelulusan warga asing akan naik hingga 1,5 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Tingkat kepercayaan pemerintah yang tinggi ini, didasarkan pada jumlah peserta yang berhasil lulus pada tahun 2012 silam, yakni sebanyak 37,2 persen dari total keseluruhan atau lebih tinggi dari presentase kelulusan calon perawat yang hanya sebesar 13,2 persen.
Namun, angka ini masih dianggap rendah, sehingga pada tahun ini, pemerintah sengaja memberikan berbagai kemudahan, seperti penggunaan huruf Furigana (cara bantu baca huruf kanji) dan perpanjangan waktu ujian khusus bagi warga asing, guna meningkatkan kelulusan.
Para peserta yang tidak berhasil lulus, namun memiliki nilai yang mendekati kelulusan juga mendapatkan kesempatan perpanjangan kontrak selama satu tahun, sehingga meningkatkan peluang untuk lulus dalam ujian nasional selanjutnya.
Namun, meski pemerintah Jepang telah memberikan berbagai kemudahan, ternyata sejumlah peserta, khususnya warga asing, masih menganggap soal yang diberikan relatif sulit.
“Ternyata memang sulit,” ujar Miftahudin Thalib (32 tahun), salah seorang calon pengasuh lansia asal Makassar yang mengikuti ujian nasional untuk pertama kalinya. “Tapi saya telah berjuang sampai akhir, mudah-mudahan hasilnya sesuai dengan kerja keras yang telah dilakukan.”
Miftah yang datang pertama kali ke Jepang pada tahun 2010 melalui program Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA), mengungkapkan kesulitan utama masih terletak pada huruf kanji.
“Memang sudah ada furigana, tapi tetap saja saya tidak mengerti arti dan maksudnya. Tidak hanya itu, banyak sekali ungkapan-ungkapan teknis dan soal mengenai undang-undang keperawatan yang sulit dimengerti,” ujar pria yang bekerja di Rumah Jompo Sakura no Sato di Iwate.
Berbeda dengan Miftah, Niken Yastie Pratiwi (26 tahun) yang bekerja di panti jompo Hidaka Hakuaien di Wakayama, mengungkapkan tingkat kesulitan yang dihadapinya lebih condong pada kosakata dan kalimat dalam soal.
“Untuk kata-kata yang digunakan memang lebih mudah dipahami dibandingkan soal tahun-tahun sebelumnya, tapi banyak kalimat-kalimat yang menjebak,” ujar Niken.
Meskipun keduanya menyatakan kesulitan dalam menjawab soal ujian, namun Miftah dan Niken tetap optimis dapat lulus pada tahun ini, karena telah melakukan persiapan dari jauh-jauh hari.
Rencananya, nama peserta yang lulus akan diumumkan pada tanggal 28 Maret mendatang, melalui situs web Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan (Kousei Rodousho) dan Center of Social Welfare Promotion and National Examination. Semoga jumlah kelulusa tahun ini dapat lebih banyak sesuai dengan yang diprediksi pemerintah.
Foto: Willy Wilnanto
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|
>> Pencarian
>> Memo Bisnis
| Honda Hadirkan Revo dengan Stripe dan Warna Baru 31/01/2013 |
| artikel lainnya |
>> Sosial & Pendidikan
| Rakuten Berikan Edukasi E-Commerce Kepada Pelajar 02/02/2013 |
| artikel lainnya |
>> Gaya Hidup & Hiburan
| Agedashi Tofu, Hidangan Tahu Kuah dari Negeri Sakura 01/02/2013 |
| artikel lainnya |
