20 Calon Perawat Peserta Program IJEPA Lulus Ujian Nasional

(TOKYO) Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan (Koseirodosho), mengumumkan hasil ujian nasional bagi calon perawat program Economic Agreement Partnership (EPA), pada 25 Maret silam. Menurut data, dari 173 orang Indonesia yang mengikuti tes, hanya 20 orang yang lulus. Jika dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya, jumlah kelulusan tahun ini, merupakan angka paling kecil.

Tahun ini Koseirodosho telah melonggarkan peraturan ujian bagi warga asing, dengan menambah waktu ujian hingga 7 jam, dan melengkapi huruf Kanji dengan furigana. Namun meskipun telah diberi kemudahan, beberapa yang mengikuti ujian masih mengeluhkan sulitnya soal-soal yang diberikan.


Salah satu kandidat yang lulus, Dede Rismunandar (28), asal Majalengka, Jawa Barat, mengikuti ujian di Tokyo, mengakui jika soal-soal yang diberikan cukup sulit. "Soal-soalnya pasti sulit. Ada tiga jenis soal, yaitu soal wajib, umum dan cerita. Meskipun soal umum dan cerita benar 100%, namun jika soal wajib jumlah benar tidak sesuai dengan yang ditentukan, tetap gagal," ujarnya.


Dede yang bekerja Yokohama Rousai Hospital, di Kota Yokohama, berada di Jepang selama tiga tahun dan telah dua kali mengikuti ujian. Motivasinya mendapatkan sertifikat perawat, mendorongnya untuk mencoba sekali lagi. Sela-sela waktu kerjanya digunakan untuk belajar dan mengikuti seminar kiat-kiat memecahkan soal.


Menurutnya, jika mendapatkan sertifikat, akan memberikan banyak kemudahan dan berbagai peluang. “Dengan bersertifikat, akan berbeda, misalnya akan mendapat pengakuan, penghargaan juga gaji. Selain itu, visa bisa diperpanjang hingga 5 tahun.”


Sementara, Widya Wulansari yang juga mengikuti ujian di Tokyo, mengatakan dirinya sangat senang bisa lulus. “Selama belajar tiga tahun, ternyata membuahkan hasil.’’


Hanya selang tiga hari, Koseirodosho juga mengumumkan hasil ujian bagi pengasuh lansia. Dari 184 orang Indonesia yang mengikuti ujian, sebanyak 86 kandidat yang lulus, dan jumlahnya meningkat hampir tiga kali lipat dari tahun lalu.


Berbeda dengan ujian calon perawat yang dapat diikuti setiap tahun dan diberi kesempatan untuk mengulang dua kali, ujian bagi calon pengasuh lansia hanya boleh diikuti peserta yang telah bekerja magang di panti jompo Jepang selama tiga tahun. Oleh karena itu, yang mengikuti ujian ini harus mempersiapkan diri dengan matang agar bisa lulus.


Joko Maristam (28), yang bekerja di Itabashiku Nursing Home, Tokyo menjadi salah satu calon pengasuh lansia lulus ujian yang diadakan pada akhir Januari silam. Pria yang telah tinggal di Jepang selama empat tahun, ini sebelum mengikuti ujian, selain mempelajari bahasa juga hal-hal mengenai keperawatan, masalah hukum dan kesejahteraan di Jepang. “Saya makin gencar belajar, sekitar lima bulan sebelum ujian. Tidak menyangka bisa lulus. Waktu melihat pengumuman di internet, saya sedang jalan-jalan bersama teman-teman. Rasanya campur aduk, tapi lega ternyata lulus,” ucapnya.


Setelah pengumuman, Joko harus mengikuti proses beberapa pengisian data, dan baru akan mendapatkan sertifikat, sebulan setelah pengumuman kelulusan. Pria asal Sukabumi, Jawa Barat ini, mengatakan, selama bekerja, dia belajar banyak hal salah satunya disiplin kerja dan hubungannya dengan pasien terjalin cukup baik. Namun dia mengeluhkan, tingginya senioritas dalam hubungan kerja antara partner kerjanya. “Saya sudah empat tahun di sini, sudah mulai terbiasa dan harus bertahan,” tandasnya.