Monbukagakusho Tawarkan Beasiswa Riset untuk 100 Orang
Kamis, 04 April 2013 13:12
(JAKARTA) Kementerian Pendidikan, Budaya, Olahraga, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Jepang (MEXT) atau Monbukagakusho, menyediakan beasiswa program research student dan memberikan kesempatan sekitar 100 orang yang lolos seleksi dokumen, untuk mengikuti tes tulis dan wawancara.
Beasiswa untuk keberangkatan tahun 2014, ini telah dibuka mulai 1 April hingga 30 April mendatang. Dari 100 orang yang lolos seleksi dokumen, akan mengikuti ujian tertulis di beberapa kota, yakni Jakarta, Surabaya, Medan, Makassar dan Denpasar pada 17 Juni 2013.
Seksi Pendidikan Kedutaan Besar Jepang di Jakarta M Ircham Novianto, mengatakan "Program research student bersifat umum dan hanya boleh diikuti orang dengan maksimal umur 35 tahun saat pendaftaran beasiswa dibuka. Selain itu, harus memiliki kemampuan bahasa Inggris maupun Jepang.”
Ircham juga menambahkan, “Akan diberikan waktu dua tahun, untuk mereka yang lulus tes, baik mempelajari bahasa dan melakukan riset, dengan biaya ditanggung penuh dari pemerintah Jepang.”
Selain memberikan pengalaman melakukan riset, beasiswa ini juga bisa menjadi batu loncatan meneruskan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, yaitu meraih gelar master dan doktor.
Belum lama ini, salah seorang penerima beasiswa dua tahun silam, Nunuk Endah Srimulyani (32) asal Malang, Jawa Timur, berhasil melanjutkan strata 2 (S2) di Universitas Chiba, Kota Chiba. "Saya ikut riset student tahun 2011, dan butuh waktu sekitar setahun untuk mempersiapkan semuanya, mulai dari tes tertulis, wawancara dan mencari rekomendasi profesor," ungkapnya. "Dari semua tes, yang cukup sulit adalah wawancara karena harus mempertahankan proposal, jika itu layak dijadikan riset."
Selain itu, hal yang sangat penting ketika telah dinyatakan lulus ujian tulis dan wawancara, adalah mencari rekomendasi profesor yang sesuai dengan riset yang diangkat karena menjadi salah satu penentu kelanjutan studi ke depannya. "Kita cari profesornya sendiri, maksimal tiga profesor dari tiga universitas. Namun juga bisa dicarikan kedutaan. Waktu itu saya pilih, Universitas Nara Joshi dan Universitas Chiba, karena sesuai dengan riset saya mengenai gender. Selama menjalani program ini, riset menjadi yang paling utama, dan bahkan perkuliahannya pun, mendukung riset yang dilakukan."
Beasiswa riset ini, diberikan maksimal selama dua tahun, dan bisa melanjutkan ke program S2 ataupun S3, jika lulus ujian masuk di universitas yang dituju. Namun, jika selama dua tahun belum berhasil lulus ujian, maka harus pulang seiring berakhirnya tenggat waktu beasiswa.
Nunuk menambahkan, beasiswa pemerintah Jepang ini, memberikan kemudahan berurusan dengan birokrasi, di antaranya pengurusan visa dan pembayaran SPP.
Informasi lengkap mengenai beasiswa ini dapat diakses di http://www.id.emb-japan.go.jp/sch_rs.html
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|

