Buka Jurusan Baru, UBinus Ikut Kembangkan Industri Game
Selasa, 23 April 2013 00:39
(JAKARTA) Semakin menggeliatnya industri game di Indonesia, mendorong universitas Bina Nusantara (Binus) membuka jurusan baru Game Application & Technology (GAT) yang aktif sejak September 2012 dan diharapkan dapat memicu perkembangan industri game di Indonesia.
“Indonesia telah masuk ke fase jenuh hanya sebagai pemain. Beberapa tahun belakangan kemudian mulai muncul perusahaan pengembang game lokal sehingga meningkatkan semangat anak muda yang awalnya hanya gemar bermain, menjadi memiliki keinginan untuk terjun di industri ini. Kami pun ingin Jurusan GAT Binus memiliki peran yang penting dalam perkembangan game Indonesia,” ujar Fredy Purnomo, Head of Computer Science Department Universitas Bina Nusantara usai acara peluncuran game online “Puzzle Kingdom”, Senin (22/04).
Jurusan GAT memfokuskan pembelajaran kepada “game art”, “game design” dan “game programming”. Lulusan jurusan ini nantinya akan mendapatkan gelar yang sama dengan jurusan berbasis IT, yaitu Sarjana Komputer (S.Kom). Mahasiswa pun dipersiapkan untuk terjun langsung ke dalam dunia pengembangan game, seperti menjadi Game Engineer, Game Developer, Game Artist, Game Director, Game Designer hingga Enterpreneur.
Untuk menunjang perkuliahan, Jurusan GAT juga bekerjasama dengan sejumlah pengembang gim di Indonesia, termasuk PT. Qeon Interactive, salah satu perusahaan di bawah naungan MidPlaza Group, melalui program kerja magang, yang resmi ditandatangani usai peluncuran “Puzzle Kingdom”.
Saat ditanya mengenai kerjasama dengan Jurusan GAT Binus, CEO PT. Qeon Interactive Riki Kawano Suliawan mengungkapkan, ini merupakan salah satu cara dalam mengembangkan industri game di tanah air, terlebih Binus satu-satunya universitas di Indonesia yang memiliki jurusan untuk terjun di industri game.
Sementara mengomentari potensi pasar game di tanah air, Riki mengungkapkan saat ini game online dan mobile seperti yang terdapat di ponsel pintar masih bisa terus berkembang, terbukti dari banyaknya game dari Korea dan Jepang yang gencar masuk ke Indonesia. Namun bukan berarti pengembang game lokal kalah bersaing.
“Potensi pengembang game lokal sangat besar. Memang tidak sebesar di Korea dan Jepang, namun arahnya sudah terlihat jelas. Bayangkan saja, dari 240 juta penduduk 15 juta penduduk Indonesia aktif bermain game online, dan diperkirakan akan terus bertambah dari tahun ke tahun. Dari sini bisa kita lihat industri game masih bisa tumbuh. Seharusnya ini menjadi pemicu pengembang game lokal untuk terus mengeksplor diri,” ujar Riki.
Riki juga menambahkan infrastruktur yang belum memadai serta pelanggaran hak cipta dan kurangnya dukungan pemerintah menjadi salah satu kerikil tajam dalam industri game Indonesia.
“Kalau mengembangkan game online, tapi koneksi internetnya tidak memadai, bagaimana bisa maju? Wajar saja jika belum sehebat Jepang atau Korea. Kalau masalah ini bisa diatasi, saya yakin pengembang game di Indonesia dapat menyusul negara-negara lain,” ujar Riki.
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|

