Harapkan Lebih Banyak Pelajar Indonesia, Universitas Tohoku Perkenalkan Program FGL
Ditulis oleh Administrator Senin, 23 May 2011 00:39
(Jakarta-Indonesia) Hansen Frank (61 tahun) dan Craig Hayward (48 tahun), dua Associate Professor dari Universitas Tohoku menyatakan harapannya agar semakin banyak pelajar dari berbagai negara, termasuk Indonesia, yang melanjutkan pendidikan di Universitas Tohoku melalui program “Future Global Leadership” (FGL).
Hal ini diungkapkan keduanya Rabu (18/05), saat mengunjungi kantor The Daily Jakarta Shimbun, setelah menghadiri “Pertemuan Para Pemimpin Universitas Jepang-Indonesia”, guna mempromosikan pertukaran pelajar Indonesia dan Jepang.
Future Global Leadership (FGL), yakni sistem perkuliahan untuk tingkat master dan doktoral yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya, sehingga memudahkan pelajar asing untuk memahami pelajaran yang disampaikan.
“Rencananya, mulai Oktober mendatang, kami juga akan membuka program FGL untuk Fakultas Teknik, Sains, dan Pertanian di tingkat sarjana,” ujar Hansen. “Program FGL telah diterapkan di semua fakultas Universitas Tohoku untuk tingkat master dan doktoral, namun ini yang pertama kalinya diterapkan pada tingkat sarjana.”
Menurut Hansen, jumlah mahasiswa yang belajar di Universitas Tohoku sebanyak 18,225 orang, dan sekitar 1,511 orang atau 8,2 persen dari jumlah total mahasiswa merupakan pelajar asing.
Sedangkan berdasarkan asalnya, pelajar asal Cina menempati urutan pertama dengan jumlah sebanyak 744 orang, disusul pelajar Korea Selatan sebanyak 220 orang, dan pelajar Indonesia sebanyak 59 orang.
“Kami ingin menambah lebih banyak jumlah pelajar asing dari berbagai negara di Universitas Tohoku,” ujar Hayward. “Oleh karena itu kami menawarkan program FGL, guna menambah minat pelajar Indonesia untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Tohoku.”
Lebih lanjut, Hansen juga menambahkan, Fakultas Teknik Material Universitas Tohoku pernah mendapatkan peringkat ketiga terbaik di dunia menurut survei yang dilaksanakan Thomson Reuters pada tahun 2009, sehingga menjadi nilai tambah bagi Universitas Tohoku.
Saat ditanya mengenai lingkungan belajar di Universitas Tohoku dibandingkan dengan universitas lainnya, Hansen menyatakan selain biaya hidup yang lebih terjangkau, lingkungan yang kondusif juga menjadi poin utama pelajar memilih Universitas Tohoku.
“Universitas Tohoku terletak di Kota Sendai, Prefektur Miyagi. Dibandingkan dengan Tokyo, biaya hidupnya lebih terjangkau. Selain itu, lingkungan yang kondusif juga mendukung pertukaran budaya lebih cepat,” ujar Hansen.
Menambahkan pernyataan Hansen, Hayward menghimbau para calon pelajar tidak perlu khawatir dengan tsunami atau krisis nuklir yang terjadi.
“Universitas Tohoku tidak terletak di daerah pinggir pantai, sehingga tidak terkena dampak tsunami yang terjadi Maret silam. Selain itu, kecil kemungkinannya radioaktif sampai di tempat kami, karena jaraknya dari pembangkit nuklir Fukushima lebih dari 100 km,” ujar Hayward. “Jadi calon mahasiswa tidak perlu khawatir dengan keselamatan mereka.”
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|
