Update Terakhir: 17:59 - 12 Des 2010.

Dubes M Lutfi : "Berupaya Tingkatkan Kerjasama Indonesia-Jepang Ke Posisi Yang Lebih Intens"

Penilaian Pengguna: / 1
JelekBagus 

(Jakarta-Indonesia) Duta Besar Indonesia untuk Jepang Muhammad Lutfi Selasa (07/12) menyatakan, dirinya akan berupaya meningkatkan kerjasama Indonesia-Jepang ke posisi yang lebih intens dibandingkan masa-masa sebelumnya.

"Indonesia dan Jepang berbagi banyak hal, baik sejarah maupun masa depan dan satu hal yang penting yakni kedua negara berlandaskan demokrasi, yang percaya bahwa takdir negara ditentukan oleh rakyat, dari rakyat, dan untuk rakyat, sehingga bisa menjadi dasar untuk mempererat hubungan kedua negara di masa depan," ujar Dubes Lutfi.


Lebih lanjut Dubes Lutfi menjelaskan, saat ini Indonesia merupakan negara dengan perekonomian yang terus tumbuh, Produk Domestik Bruto (PDB) tahun depan diperkirakan sekitar 800 miliar dolar AS dengan pertumbuhan sekitar enam persen, sementara Jepang diperkirakan PDB tahun 2011 sekitar 5 triliun dolar AS, dengan pertumbuhan atau penyusutan sekitar satu persen.

"Yang berarti, suatu saat nanti di masa depan, mungkin situasinya akan berubah," ujar Dubes yang pernah menjadi Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) periode 2004-2009. "Tapi untuk terus maju, Indonesia memerlukan teknologi dari Jepang, dan disisi lain Jepang memerlukan banyak komoditas, dan tenaga kerja untuk mempertahankan perekonomian, maka berdasarkan kebutuhan dan kesamaan itu, hubungan kedua negara harus ditingkatkan."

Iklim Investasi di Indonesia dan Investor Jepang

Mengenai iklim investasi di Indonesia, Dubes Lutfi mengungkapkan, Indonesia telah melampaui harapan para investor Jepang.

Sebelumnya, mereka punya banyak keraguan terhadap Indonesia yang baru saja melewati krisis sehingga dianggap bukan daerah tujuan investasi yang menarik, namun sejak tahun 2009 investor Jepang melihat Indonesia dengan pandangan yang berbeda, yakni sebagai negara dengan politik yang stabil.

Menurut Lutfi, saat ini Indonesia merupakan ekonomi nomor 18 terbesar di dunia, yang menjadikan daya tarik Indonesia semakin meningkat, dan juga menjadi pasar potensial bagi produk Jepang.

Lutfi mencontohkan, sampai pertengahan tahun 2010, Indonesia memproduksi lebih banyak mobil, sekitar 750 ribu unit dan terus tumbuh, dibanding Thailand yang dianggap sebagai "Detroit of the East."

Selain itu, Indonesia saat ini memiliki 110 juta orang yang tidak berada dalam kawasan pusat produksi. Jadi, bila melihat strategi penciptaan kelas menengah yang pernah dilakukan Jepang di Cina dan India.

Maka, kesepakatan pemerintah Indonesia-Jepang untuk membuat Indonesia Economic Development Corridor (IEDC), merupakan upaya untuk menciptakan kelas menengah baru di Indonesia.

Program Pengiriman Calon Perawat & Pengasuh Lanjut Usia

Sementara mengenai Program bidang Kesehatan Indonesia - Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA), Lutfi membantah pendapat yang menyatakan program itu gagal.

Menurut Lutfi, program itu lebih tepatnya sebagai "Engagement" (pertemuan), karena ini merupakan pertama kalinya membawa perawat dan pengasuh lanjut usia asing, dan membuat mereka beradaptasi dengan situasi di Jepang.

"Yang dinilai dari Engagement bukanlah hasil, tetapi untuk melakukan perbaikan di masa depan," ungkap Lutfi, yang mantan Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) periode 2001-2004. "Jadi jangan disebut kegagalan, mungkin lebih tepat disebut hasilnya belum memenuhi harapan."

Untuk itu, kedua pemerintah berupaya melakukan perbaikan antara lain, untuk ujian calon perawat dan pengasuh lanjut usia yang akan datang, rencananya Pemerintah Jepang akan menambahkan hiragana dan katakana. Sementara dari Pemerintah Indonesia, masa persiapan menjelang keberangkatan ke Jepang, rencananya diperpanjang menjadi enam bulan sampai satu tahun.

Menurut Lutfi, dari seribu orang peserta program yang telah dikirim ke Jepang, beberapa akan kembali pada bulan Februari tahun depan.

Diharapkan, selama tiga tahun disana, selain mempelajari bahasa Jepang, mereka juga bisa mempelajari keuletan orang Jepang.

Sedangkan mengenai tanggapan para pengelola fasilitas kesehatan di Jepang, yang pernah menerima para calon perawat dan pengasuh lanjut usia Indonesia, kepada Dubes Lutfi sebagian besar menyatakan menyukai cara kerja orang Indonesia. (Arry Raymond)