Update Terakhir: 06:53 - 27 Peb 2012.

Hasil Studi JICA: Jabodetabek Harus Terapkan Kebijakan Bersama untuk Atasi Kemacetan

Penilaian Pengguna: / 0
JelekBagus 

(Jakarta-Indonesia) Hasil studi Japan International Cooperation Agency (JICA) dalam program Study on Integrated Transportation Master Plan (SITRAMP) menyatakan pemerintah wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi harus menerapkan satu kebijakan bersama untuk mengatasi kemacetan.


Hal ini disampaikan Hamada Keigo, Urban Transportation Policy Advisor Project Leader for Jabodetabek Urban Transportation Policy Integration JICA, dalam seminar perkembangan proyek SITRAMP yang diselenggarakan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada hari Selasa (21/02) di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat.


Di hadapan sekitar 80 orang peserta seminar, termasuk staf Menko Ekonomi, Dirjen Perhubungan Darat, Dirjen Perkeretaapian, Pemprov DKI Jakarta, Jawa Barat, Pemkot Depok, Tangerang, Bekasi, Perusahaan Pengelola MRT, Jasa Marga, dan Trans Jakarta, Hamada menjelaskan peraturan yang telah dibuat sebelumnya oleh masing-masing pihak tidak akan mengatasi masalah kemacetan yang semakin bertambah parah.


“Dibutuhkan kerjasama dari berbagai pihak jika ingin menyelesaikan masalah kemacetan di Jakarta dan sekitarnya. Percuma jika menggunakan banyak solusi namun tidak ada kerjasama antar lembaga terkait,” ujar Hamada.

Lebih lanjut, Hamada juga mengungkapkan bahwa kendaraan umum yang terdapat di Jabodetabek hanya memenuhi 27 persen dari permintaan warga. Sementara itu, lahan kosong yang ada telah dijadikan kompleks perumahan antara tahun 2000 sampai 2010, sehingga lahan yang ada saat ini tidak memadai dengan jumlah kendaraan yang ada.



“Mulai dari kebijakan 3 in 1, hingga pengelola bus yang berasal dari perusahaan yang berbeda-beda, menunjukkan tidak adanya kerjasama berbagai pihak dalam mengatasi kemacetan. Hal ini juga diperparah dengan ramainya lalu lintas dengan penggunaan mobil pribadi, yang merupakan efek dari tingginya perkembangan ekonomi Indonesia,” ujar Hamada.


Selain itu, Hamada juga membandingkan penggunaan kendaraan di Tokyo dengan Jakarta. Berdasarkan survei yang dilakukan sejak Juli 2009, diketahui pengguna sepeda motor di Jakarta sebanyak 43 persen, mobil 12 persen dan kereta kurang dari 2 persen. Sementara di Tokyo, pengguna sepeda motor hanya 2 persen, mobil 4 persen, dan kereta mencapai 16 persen.

“Salah satu keberhasilan Tokyo dalam mensosialisasikan penggunaan angkutan umum, adalah dengan mempermudah sistem serta memperbaiki fasilitas transportasi umum, sehingga warga aman dan nyaman saat menggunakannya,” ujar Hamada. “Saya rasa hal ini juga harus dilakukan oleh pemerintah Jakarta, tentu saja dengan kerjasama berbagai pihak.” (AN/JS)