Anggota JJC Ziarah ke Makam Warga Jepang di Jati Petamburan
Jumat, 23 Maret 2012 17:35
(Jakarta-Indonesia) 21 anggota kelompok individual Jakarta Japan Club (JJC), Rabu (21/03) berziarah ke makam warga Jepang yang tinggal di Indonesia sejak jaman sebelum perang, di Jati Petamburan, Jakarta Pusat.
Acara dihadiri minister Kedutaan Besar Jepang di Indonesia Shimokawa Masato, Konsulat Jenderal Jepang di Jakarta Yamagishi Masahiro, delegasi ASEAN Namioka Daisuke, Ketua JJC Oe Masato, dan Kepala Sekolah Jakarta Japan School Iwamoto Kenichiro.
Setelah mengheningkan cipta, satu per satu hadirin membakar dupa dan berdoa, sambil diiringi pembacaan ayat sutra.
Pada jaman pemerintahan Meiji (tahun 1868 - 1912), banyak warga Jepang yang bermigrasi ke negara-negara di Asia Tenggara, dan diantaranya banyak yang berasal dari keluarga miskin, sehingga mereka rela menjual diri atau menjadi pekerja seks. Wanita Jepang yang ke luar negeri dan menjalani profesi itu disebut "Karayuki-san".
Pada tahun 1897, tercatat sekitar 125 warga Jepang yang 100 orang diantaranya merupakan wanita, datang ke Pulau Jawa, dan sebagian besar merupakan "Karayuki san". Pada saat itu, Bank Taiwan (Taiwan Ginko) cabang Jakarta (dulunya disebut Batavia) dan Surabaya, mayoritas melayani nasabah yang berprofesi sebagai "Karayuki-san".
Sebelumnya, pada tahun 1931, Ishii Taro bersama 7 rekannya mendirikan Batavia Nihonjin-kai. Mereka mengumpulkan dan menyimpan abu jenasah para "Karayuki-san", yang saat itu, tercatat sekitar 6,500 warga Jepang pergi meninggalkan negaranya saat terjadi Perang Dunia Kedua .
Upacara ziarah bagi warga Jepang yang pernah tinggal di Indonesia sejak tahun 1960, dan dilaksanakan setiap musim semi (akhir Maret) dan musim gugur (awal September).
Di taman makam Jati Petamburan, terdapat 277 abu jenazah warga Jepang yang meninggal pada era yang berbeda, mulai dari zaman Meiji (35 orang), zaman Taisho (67 orang), zaman Showa (153 orang), zaman Heisei (1 orang), dan yang eranya tidak diketahui sebanyak 21 orang.
Tidak hanya para peziarah JJC yang peduli terhadap kenangan para leluhurnya. Pada tahun 1959, beberapa sukarelawan warga Jepang juga mendirikan asosiasi "Nihonjin Bochi Hozon-kai" untuk menjaga dan merawat kuburan para leluhur yang dimakamkan Jakarta.
Setelah ke Jati Petamburan, ke-21 anggota JJC melanjutkan ziarah ke makam tentara Jepang yang tewas pada Perang Dunia Kedua di Tanah Abang. (II/JS)
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|