Inpex Lelang Desain Kilang LNG Terapung

(JAKARTA – Indonesia) Proyek gas alam cair (LNG), Lapangan Abadi di Blok Masela, Laut Arafuru kini masuk tahap rekayasa desain setelah operator utamanya, Inpex Masela Ltd. mengumumkan konsorsium PT JGC Indonesia dan PT Saipem Indonesia, untuk mengikuti lelang desain kilang.

Kedua konsorsium akan membuat desain rinci (front end engineering design/FEED) secara paralel untuk fasilitas kilang gas alam cair terapung (floating liquefication natural gas/FLNG) dan selanjutnya Inpex akan memilih desain yang layak baik dari segi komersial dan teknis.


Konsorsium pimpinan PT JGC Indonesia, anak perusahaan JGC Corporation asal Jepang terdiri dari JGC Corporation, PT Technip Indonesia, PT Technip Engineering Indonesia, Technip France, dan MODEC Inc. Sedangkan konsorsium PT Saipem Indonesia, anak perusahaan Saipem Italia memimpin Saipem SA, PT Chiyoda International Indonesia, Chiyoda Corporation, PT Tripatra Engineering, PT Tripatra Engineering and Constructors, PT Rekayasa Industri, dan SBM Inc.



Proyek di perbatasan Indonesia - Australia ini akan menjadi kilang LNG terapung pertama di Indonesia. Jika biasanya gas dari lepas pantai dialirkan melalui pipa lalu diproses kilang LNG di darat, dengan FLNG, gas alam langsung dicairkan di lokasi lapangan gas di lautan. Kemudian hasilnya dapat langsung diangkut dengan kapal-kapal tanker.


Meskipun pemerintah menargetkan agar kilang beroperasi pada 2016, namun Jadwal mulai konstruksi belum dapat dipastikan karena masih harus menunggu FEED selesai, dan selanjutnya Inpex akan menuju tahapan selanjutnya yakni penyelesaian keputusan akhir investasi (final investment decision/FID).

Inpex mendapatkan hak eksplorasi Blok Masela pada 1998 dan sejak itu telah melakukan pengeboran pada tahun 2000 yang menemukan Lapangan Gas Abadi. Kepemilikan saham Blok Masela dikuasai Inpex Masela Ltd sebesar 60 %, Shell Corporation 30 %, dan 10 persen sisanya oleh PT Energi Mega Persada Tbk (EMP).


Cadangan gas di Laut Arafuru, Maluku ini diperkirakan mencapai 6,05 triliun kaki kubik (tcf) dan direncanakan memproduksi 2,5 juta ton LNG per tahun. Lapangan ini juga diharapkan menghasilkan 8.400 barel kondensat per hari. Pengembangan blok ini diperkirakan memakan dana hingga US$ 9-10 miliar.


Inpex memiliki sejarah operasional yang panjang di Indonesia, bermula pada 1966 dengan kontrak produksi di Blok Mahakam dan Unit Attaka, Kalimantan. Mayoritas produksi LNG area ini dipasok ke Bontang dan kemudian dikirimkan ke Jepang. Selain itu Inpex juga sebagai operator lepas pantai di Laut Natuna Selatan Blok B serta turut serta dalam mega proyek LNG Tangguh di Papua Barat yang memiliki cadangan gas hingga 14 triliun kaki kubik.


Wilayah operasi Inpex tersebar di 26 negara, terdekat dengan Indonesia adalah Bayu-Undan Project di Laut Timor yang masuk kawasan Joint Petroleum Development Area (JDPA) antara Australia dan Timor Timur. (BN)

Hak Cipta © 2013 HALO Jepang! HArian onLine indOnesia - Jepang. Dilindungi oleh Undang-undang