Son Masayoshi, Taipan Teknologi Pengambil Resiko


(JAKARTA – Indonesia) Terkadang penguasaan teknologi saja tak serta merta membawa kemakmuran dan keuntungan, diperlukan intuisi bisnis dan keberanian untuk mengambil resiko. Karakter itu dimiliki Masayoshi Son, pendiri dan CEO Softbank, menjadikannya orang terkaya kedua di Jepang.

Pria bernama asli Son Jeong ui ini terlahir sebagai generasi ketiga Zainichi Korean atau orang Korea yang tinggal di Jepang. Masa kecilnya dihabiskan di Tosu, kawasan miskin tempat tinggal komunitas korea di barat daya Tokyo. Sebagai keturunan Korea, kehidupan keluarganya cukup sulit karena sering mengalami diskriminasi. Agar lebih diterima masyarakat setempat, keluarganya pun memutuskan mengubah namanya menjadi Masayoshi Son.


Sebagai remaja, Son sangat berminat dengan bisnis dan wirausaha. Ia pernah berusaha keras bertemu Presiden McDonald Jepang, Fujita Den yang kemudian menasihatinya agar mempelajari Bahasa Inggris dan Ilmu komputer


Pada 1973, Son dikirim ke California untuk meneruskan belajar terutama Bahasa Inggris. Setelah lulus SMA kemudian meneruskan kuliah di University of California, Berkeley mengambil ekonomi dan ilmu komputer, ia berhasil lulus pada 1980. Lingkungan yang dekat dengan perkembangan teknologi membuatnya yakin bisnis di bidang komputer akan menguntungkan di masa depan.


Sewaktu di AS itulah ia memiliki ide tentang kamus elektronik. Meskipun tak memiliki kemampuan teknis, membuatnya tak menyerah. Diajaklah Forrest Mozer, profesor fisika di Berkeley untuk bekerjasama menciptakan alat penerjemah dilengkapi suara. Kamus saku elektronik ini akhirnya terjual pada 1979 ke Sharp Electronics seharga US$423.000, nilai yang fantastis masa itu.


Memiliki dana besar mendorongnya melakukan bisnis pertamanya yakni menyewakan piranti game Pac-Man dan Space Invaders di bar dan restoran lokal. Ayahnya yang pengusaha Pachinko di Jepang memudahkannya memperoleh mesin game terbaru. Dari bisnis ini dikabarkan Son meraup jutaan dolar.


Sekembali dari AS, pada 1980 Son tetap berkecimpung dalam bisnis teknologi dengan mendirikan SoftBank, distributor perangkat lunak untuk PC. Tak hanya itu, kemudian Ia pun membuat sistem yang memungkinkan panggilan telpon lokal dan internasional berbiaya murah, kiprahnya menandingi monopoli NTT.


Bisnisnya terus berkembang, hingga pada 1996 bekerjasama dengan Yahoo! membentuk Yahoo! Jepang. Antara 1995 hingga 1998 dilaporkan investasinya mencapai US$374 juta. Keberaniannya berinvestasi membuat mesin pencari ini menjadi yang terbesar di Jepang.


Intuisinya tentang bisnis dipadukan dengan pengetahuan teknologi mendorongnya berinvestasi pada jaringan Broadband internet yang meraup 4,3 juta pelanggan. Sempat merugi hingga US$100 juta dalam satu bulan SoftBank kemudian mengakuisisi Telecom, provider yang memiliki pelanggan besar. Kini Yahoo!BB (Yahoo!Broadband) menjadi pemimpin jaringan broadband di Jepang.


Masayoshi Son memang merupakan sosok CEO Jepang yang berbeda. Biasanya dalam perusahaan Jepang, jajaran eksekutif memutuskan langkah bisnis melalui konsensus. Karakter pria 55 tahun ini lebih mirip orang Amerika, punya visi dan berusaha mewujudkannya walau dengan mengambil resiko.


Tak salah jika Nikkei pada Oktober 2012 memasukkannya sebagai 100 orang pencipta generasi baru Jepang. Son memiliki intuisi bisnis, visi dan berusaha mewujudkannya serta tak takut resiko.(BN)

Hak Cipta © 2013 HALO Jepang! HArian onLine indOnesia - Jepang. Dilindungi oleh Undang-undang