Bank Dunia : Permintaan Domestik Kuat, Semester 1-2012 Ekonomi Indonesia Tetap Tumbuh

(JAKARTA-Indonesia) Perekonomian Indonesia pada semester 1 tahun 2012 tetap tumbuh yang didukung permintaan domestik, meski nilai ekspor turun akibat melambatnya pertumbuhan ekonomi global, ungkap laporan Indonesia Economic Quarterly Bank Dunia yang dirilis Senin (15/10).

Menurut Ndame Diop, Lead Economist and Economic Advisor World Bank Jakarta, perekonomian Indonesia tetap tumbuh akibat kuatnya permintaan domestik, dan juga peningkatan jumlah investasi.


Namun disisi lain Ndame mengingatkan terhadap adanya sejumlah resiko yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi Indonesia, sebagian besar berasal dari faktor eksternal seperti situasi di zona Euro, prediksi pengurangan defisit anggaran di Amerika Serikat, situasi di Cina, dan dampak dari diperbaharuinya pelonggaran kebijakan moneter global terhadap aliran investasi portofolio dan harga komoditas.

Menurut data COMTRADE, persentase komoditas terhadap total nilai ekspor Indonesia di tahun 2011 sebesar 68,3 persen, yang terdiri dari Pertanian, Makanan dan Tembakau 23,5 persen, Pertambangan 13,6 persen, dan Bahan Bakar 31,3 persen, mengakibatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat rentan jika negara mitra dagang mengalami perlambatan ekonomi.

Lebih lanjut Ndame memaparkan, meski Indonesia telah menyiapkan mekanisme yang dinilai memadai guna mengantisipasi ketidakpastian global, namun dibutuhkan sejumlah langkah tambahan, seperti lebih mempercepat investasi dengan menyederhanakan peraturan, menekankan transparansi, konsistensi, dan kepastian, serta meningkatkan mutu belanja pemerintah, guna mendorong investasi di sejumlah sektor yang meningkatkan pertumbuhan dan jaminan sosial.

Sedangkan mengenai rancangan anggaran belanja pemerintah tahun 2013, Ndame menilai alokasi subsidi energi yang terlalu besar dapat menghambat fleksibilitas anggaran, padahal bisa digunakan untuk mengantisipasi dampak melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia terhadap Indonesia.

"Belanja subsidi energi yang meningkat dapat menambah ketidakpastian kesehatan fiskal Indonesia ke depan, sangat menguntungkan rumah tangga kaya, dan menghambat penggunaan energi secara efisien,selain itu, juga beresiko mengurangi investasi pemerintah jika biaya subsidi energi terus naik," ujar Ndame. "Seandainya gagal melaksanakan perbaikan, maka dalam jangka menengah dapat menurunkan outlook pertumbuhan kedepan, dan juga kemampuan pemerintah untuk mencapai tujuan pembangunan yang telah ditargetkan." (Arry Raymond)