Perayaan Sederhana Idul Fitri di Jepang
Selasa, 13 Agustus 2013 00:28
(Jakarta) Idul Fitri menjadi salah satu hari raya yang paling ditunggu-tunggu warga muslim di seluruh dunia, tidak terkecuali warga muslim asal Indonesia. Jika di tanah air perayaan Idul Fitri terasa sangat meriah di setiap daerah, beda halnya di negara dengan penduduk muslim minoritas, seperti Jepang.
Menurut Widya Sumi, warga muslim Indonesia yang telah menetap di Hokkaido selama 12 tahun, perayaan Idul Fitri di Sapporo memang tidak bisa dibandingkan dengan di Indonesia.
Di tanah air hari raya Idul Fitri dijadikan hari libur dan dapat dimanfaatkan untuk menghabiskan waktu bersama keluarga, namun di Jepang karena tidak bertepatan dengan tanggal merah atau hari libur, setiap warga muslim tetap melakukan kegiatan sehari-hari, seperti bekerja atau kuliah.
“Tahun ini sholat Idul Fitri berjamaah tetap dilaksanakan seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Sekitar 200 orang sholat berjamaah di Masjid Sapporo. Sehabis sholat biasanya kami langsung bersalaman dan bermaaf-maafan namun tidak berlangsung lama, karena banyak pekerja yang harus kembali ke kantor bekerja seperti biasanya,” ujar Widya.
Widya menambahkan, jumlah jamaah yang sholat Idul Fitri tahun ini juga tidak sebanyak tahun lalu karena bertepatan dengan liburan musim panas, sehingga banyak keluarga atau pelajar yang kembali ke Indonesia.
Tidak jauh berbeda dengan Sapporo, perayaan Idul Fitri di daerah Kansai juga dilaksanakan secara sederhana. Setelah sholat Idul Fitri di Hyogo International House, Kobe, yang diselenggarakan atas kerjasama KJRI Osaka dengan PPI dan KMII di daerah Kansai, sekitar 500 jamaah langsung kembali ke aktivitas masing-masing.
“Berbeda dengan KBRI, hari raya tahun ini KJRI tidak menyelenggarakan Open House. Kemungkinan besar kami akan menggabungkannya dengan acara peringatan 17 Agustus nanti yang jatuh di hari Sabtu, bertepatan dengan hari libur kerja,” ujar Staf Bagian Penerangan KJRI Osaka, Suzanne Maria A.
Suasana yang sama juga dirasakan WNI muslim di Prefektur Kochi. Ahmad Hidayat Setiawan, mahasiswa pascasarjana Forest Engineering di Universitas Kochi mengungkapkan, suasana kekeluargaan saat Idul Fitri sangat terasa meskipun warga muslim di Kochi, khususnya WNI hanya sekitar 15 orang.
Pria yang biasa disapa Iwan ini menceritakan, sholat Idul Fitri dilaksanakan di halaman belakang asrama Universitas Kochi, karena tidak ada masjid yang berjarak cukup dekat.
“Sejak 4 tahun yang lalu menetap di Kochi, pelaksanaan sholat Idul Fitri selalu dilaksanakan disini, jamaahnya juga tidak terlalu banyak, apalagi kalau hari raya tidak berbarengan dengan hari libur atau tanggal merah,” ujar Iwan.
Tempat tinggal Iwan juga biasa dijadikan sebagai tempat berkumpul para mahasiswa Universitas Kochi setelah sholat Ied untuk bersantap bersama.
“InsyaAllah tahun ini menjadi tahun terakhir bagi saya merayakan Idul Fitri di Kochi, karena rencananya September mendatang saya akan kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan studi saya. Saya benar-benar beruntung dapat merasakan Idul Fitri dengan suasana kekeluargaan disini,” ujar Iwan.
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|
