Pengambilalihan Inalum Isi Kekosongan Bahan Baku Industri

(JAKARTA) Pemerintah Indonesia masih berupaya menyelesaikan pengambilalihan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) dari konsorsium perusahaan Jepang. Posisi perusahaan ini memang strategis sebagai penyedia bahan baku industri hilir aluminium.


“Sebetulnya diambil alihnya Inalum belum tentu berpengaruh kepada harga bahan baku aluminium sehingga lebih rendah, namun pengambilalihan Inalum dapat mengisi kekosongan bahan baku industri,” ungkap Ladjiman Damanik, Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Mineral Indonesia (APEMINDO) ketika dihubungi, Selasa (19/11).


Selanjutnya Ladjiman menjelaskan, “Selama ini kita masih mengimpor aluminium ingot sebanyak 600.000 ton dari Australia. Sementara dari produksi Inalum yang sebesar 225.000 ton, selama ini 60%-nya diekspor ke Jepang.”


Ladjiman menilai kapasitas Inalum masih bisa ditingkatkan lagi. Ia membandingkan dengan Dubai yang pada tahun yang sama membangun peleburan (smelter) berkapasitas 170.000 ton sementara Inalum memiliki 225.000 ton. Tapi saat ini produksi Dubai menjadi 1.4 juta ton, sedangkan Inalum selama 30 tahun produksinya tidak banyak berubah.


Terkait nasionalisasi, Ladjiman tak khawatir akan kemampuan teknis staf lokal, mengingat dari tahun ke tahun ada peningkatan. Ia lebih mengkhawatirkan dari sisi pemasaran yang sudah terbiasa mengharapkan captive market sebesar 60% ke Jepang.


Setelah berbulan-bulan melalui negosiasi sulit, pemerintah Indonesia tak kunjung mencapai kata sepakat dengan konsorsium Jepang terkait nasionalisasi PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). Masalah inipun terancam dibawa ke arbitrase internasional. Meskipun begitu kedua pihak masih terus mengupayakan jalan damai demi hubungan baik.


“Negosiasi sebenarnya masih berjalan, tapi kedua pihak berpikir kami harus mencapai kesepakatan segera,” ungkap Jun Yamamoto, General Manager Aluminium Division, Sumitomo Chemical Co Ltd.


Perusahaan masih mengupayakan jalan damai untuk masalah pengambilalihan Inalum, namun tetap mempersiapkan mencari arbitrase ke International Center for Settlement of Investment Disputes (ICSID).