Shikoku Electric Nonaktifkan Reaktor Nuklir di Ikata

(Ehime) Shikoku Electric Power Co. mulai Selasa (10/05) menonaktifkan pengoperasian reaktor nuklir yang sudah berfungsi hampir 40 tahun di Kota Ikata, Prefektur Ehime, dan menjadi reaktor nuklir keenam yang akan dibongkar setelah diterapkannya peraturan keselamatan yang diperketat pasca terjadinya bencana di Fukushima pada tahun 2011.


Pada bulan Maret silam, Shikoku Electric memutuskan untuk menonaktifkan reaktor nomor 1 yang berada di kompleks nuklir Ikata di Prefektur Ehime, setelah mempertimbangkan kemungkinan terjadinya pembengkakan biaya jika harus melakukan peremajaan reaktor yang sudah tua itu.


Perusahaan memperkirakan kebutuhan anggaran lebih dari 170 miliar yen untuk memperkuat langkah keamanan untuk peremajaan reaktor yang mulai beroperasi sejak tahun 1977.


Sementara untuk proses penonaktifannya diperkirakan memakan waktu sekitar 30 tahun dengan total biaya 30 miliar yen, ungkap Shikoku Electric.


Dan untuk mengurangi biaya penonaktifan, perusahaan penyedia listrik ini pada April silam telah melakukan kesepakatan kerjasama teknologi dengan tiga perusahaan penyedia listrik lainnya.


Menurut peraturan keselamatan terbaru, yang secara prinsip menetapkan pelarangan pengoperasian reaktor nuklir lebih dari 40 tahun. Namun masih memungkinkan untuk memperpanjang masa operasi selama 20 tahun, asalkan operator melakukan upgrade keselamatan dan lulus pemeriksaan yang dilaksanakan regulator.


Hal itu merupakan bagian dari upaya Pemerintahan PM Abe untuk mengaktifkan kembali lebih banyak reaktor guna memenuhi target kebutuhan listrik Jepang pada tahun 2030, yang sekitar 20 persennya dipasok dari pembangkit nuklir.


Penutupan reaktor Ikata nomor 1 mengurangi jumlah reaktor nuklir swasta di Jepang menjadi 42 unit, yang empat diantaranya sudah kembali beroperasi setelah melakukan sejumlah penyesuaian mengikuti peraturan keselamatan yang direvisi pasca bencana Fukushima. Namun dua dari empat reaktor yang sempat diaktifkan itu kembali ditutup awal tahun ini menyusul keputusan pengadilan yang melarang pengaktifannya.


Sebelumnya Shikoku Electric sudah menyatakan tidak mungkin mengoperasikan kembali unit nomor 1 mengingat besarnya biaya yang harus dikeluarkan, dan fakta bahwa kapasitas produksinya relatif kecil yakni sekitar 566.000 kilowatt. Selain itu, perusahaan berencana mengupgrade unit nomor 3 yang lebih besar dan lebih baru.