Tingkat Pengangguran Memburuk Pasca Kenaikan Pajak Konsumsi


(Tokyo) Tingkat pengangguran memburuk menjadi 3.8 persen di bulan Juli, naik 0.1 persen dibanding bulan Juni, dipicu meningkatnya jumlah pencari kerja pasca penurunan ekonomi akibat kenaikan pajak konsumsi awal tahun ini.


Menurut data yang dirilis Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi (Homu sho/MIC) Jumat (29/08), tingkat pengangguran dikalangan wanita naik 0.2 persen dari bulan Juni menjadi 3.7 persen, sementara dikalangan pria tetap sebesar 3.8 persen.


Sementara jumlah pengangguran naik 40.000 orang dibanding bulan Juni menjadi 2.48 juta orang. Sedangkan jumlah yang kehilangan pekerjaan naik 30.000 orang menjadi 750.000 orang, dan mereka yang berhenti kerja turun 30.000 orang menjadi 890.000 orang.


Berdasarkan sektor, industri ritel dan grosir serta jasa terkait konsumen seperti hiburan, mengurangi jumlah pegawai sejak awal tahun, namun disisi lain sektor konstruksi, komunikasi dan informasi justru membutuhkan banyak tenaga kerja.


“Lebih banyak orang yang mencari kerja pada saat ekonomi pulih, dan hal ini justru memperburuk tingkat pengangguran. Namun situasi saat ini masih dalam jalur yang benar,” ujar salah seorang pejabat Kementerian.


Sementara data terpisah yang dirilis Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan menunjukkan ketersediaan lapangan kerja stagnan sejak bulan Juni. Rasio lowongan kerja dan pencari kerja tetap di posisi 1.10 pada bulan Juli, yang berarti untuk setiap 110 lowongan ada 100 orang yang mencari kerja.


Namun situasi lapangan kerja yang memburuk ini juga disebabkan kenaikan pajak konsumsi dari 5 persen menjadi 8 persen yang berlaku mulai 1 April silam, dan mengakibatkan lesunya belanja perseorangan dan produksi industri.


“Dengan naiknya pajak konsumsi mengakibatkan lesunya prospek ekonomi, laju perbaikan pasar kerja diperkirakan terus turun,” ujar Shinke Yoshiki, ekonom kepala Dai-ichi Life Research Institute.


Ekonomi domestik berkontraksi sekitar 6.8 persen pada kuartal April-Juni, yang merupakan laju penurunan tercepat sejak terjadinya bencana gempa dan tsunami pada bulan Maret 2011, yang dipicu kenaikan pajak konsumsi.


Sedangkan sejumlah ahli memproyeksikan ekonomi domestik kemungkinan akan pulih pada kuartal Juli-September, dengan laju yang dapat melampaui perlambatan ekonomi pada kuartal sebelumnya.