Belajar Rekonstruksi Pascabencana dari Sendai
Senin, 07 Juli 2014 11:35
(Jakarta) Pelatihan manajemen bencana untuk generasi muda ASEAN selesai pada akhir Juni silam. Pelatihan selama enam bulan yang diselenggarakan AHA Center Executive Program (ACE Program), dengan tujuan mempersiapkan pemimpin ASEAN yang handal dalam menghadapi bencana.
AHA singkatan dari ASEAN Coordinating Center for Humanitarian Assistance, organisasi yang didirikan ASEAN untuk memfasilitasi kerja sama, dan koordinasi antar anggota serta lembaga internasional lain untuk penanganan bencana.
“Materi yang diberikan bukan hanya soal manajemen saja melainkan juga topik-topik kepemimpinan. Pelatihan ini bertujuan menumbuhkan kepemimpinan dan membangun networking di antara peserta,” ujar Direktur Eksekutif AHA Center Said Faisal (27/06).
Peserta angkatan pertama pelatihan ini diseleksi masing-masing negara. Indonesia mengirimkan dua orang wakil dari Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB). “Tidak semua anggota ASEAN mengirimkan wakilnya ke pelatihan ini. Filipina terpaksa absen karena harus menangani bencana topan Hayan Januari silam sementara di bulan itu kami memulai pelatihan,” kata Said.
Di samping belajar di kelas, para peserta juga mengikuti langsung simulasi di lapangan serta studi banding ke Jepang, Selandia Baru dan Australia. “Dalam hal ini Jepang punya kerjasama khusus dengan ASEAN. Kami ke Jepang untuk belajar menangani rekonstruksi setelah bencana di Sendai. Kami bertemu dengan berbagai pihak di sana untuk berbagi pengalaman dengan mereka,” tuturnya.
Peserta dari Indonesia Ayu Setiadewi mengaku sangat terkesan ketika berkunjung ke Jepang. Ayu bersama 12 peserta lain berkunjung ke Rikuzentakata, dan Kesennuma untuk melihat secara langsung kondisi masyarakat pascabencana. “Dua orang peserta pelatihan juga menjadi pembicara simposium di Jepang,” kata wanita berhijab ini.
Selama belajar di Jepang Ayu melihat kekuatan mental orang Jepang dalam menghadapi bencana. “Mereka cepat bangkit. Tidak mau berlama-lama tinggal di pemukiman sementara. Orang Jepang juga punya kearifan lokal yang diwarisi dari kakek nenek mereka. Ketika terjadi gempa hebat, mereka akan langsung mengungsi ke tempat tinggi tanpa harus menunggu perintah,” paparnya.
Ia bersama para peserta pelatihan lain naik helikopter meninjau wilayah yang terkena bencana di tahun 2011 itu. “Kami melihat pemerintah Jepang meninggikan rumah-rumah yang terletak di dataran rendah. Pemerintah pun membangun sea wall sebagai antisipasi datangnya tsunami,” ujar Ayu.
Hal lain yang mengesankan dari Jepang adalah pendidikan kebencanaan yang diberikan sejak usia sekolah. “Peraturan kebencanaan di negara kita juga masih terlalu umum, belum mengatur secara detil. Seharusnya perilaku buang sampah sembarangan yang mendatangkan bencan banjir juga harus diatur lebih tegas,” harapnya.
| Selanjutnya > |
|---|
BERITA TERKINI
- Toyota Pertimbangkan Naikkan Harga Mobil di Negara Berkembang
- Genset Diesel Denyo Pecahkan Rekor MURI
- Konsorsium Adaro & J-Power Tunda Proyek PLTU Batang
- Wacom Selenggarakan Kompetisi Komik Untuk Pelajar & Mahasiswa
- Kobe Luncurkan Jaringan Internet Nirkabel Gratis Bagi Turis Asing
- Dimas Ekky Jajal Suzuka 8-Hour Endurance Road Race
