Ujicoba Sistem Peringatan Bahaya di Jepang Gagal

(TOKYO-Jepang) Sekitar 250 Pemerintah Kota di Jepang mengalami kesulitan menerima laporan melalui "J-Alert", sistem peringatan nasional untuk segera mengirimkan informasi mengenai bencana alam, serangan militer, dan situasi darurat lainnya, saat berlangsungnya latihan yang dilaksanakan Pemerintah Pusat pekan silam, ungkap berita yang dilansir Yomiuri Shimbun Minggu (16/09).

Latihan tanggap bencana nasional dilaksanakan pada Rabu pekan silam, dengan melibatkan 1,725 pemerintah kota yang menggunakan sistem komunikasi "J-Alert".

Dalam latihan, 249 pemerintah kota, atau 14 persennya, mengalami kesulitan saat berlatih menerima laporan yang dikirim Badan Pengelola Bencana dan Pemadam Kebakaran pada pukul 10 pagi dan pukul 10.30 pagi.

Di balai kota Takasaki, Prefektur Gunma, pegawai pemerintah setempat menyatakan perangkat penerima tidak membunyikan alat pemberi peringatan bahaya, yang seharusnya mengeluarkan tanda setelah menerima laporan pada pukul 10 pagi. Rencananya, setelah menerima laporan, maka pemerintah kota akan mengirimkan surat elektronik ke warga mengenai rincian laporan. Setelah latihan dinyatakan gagal, selanjutnya dikirim surat elektronik berisi permintaan maaf ke warga pada petang harinya.

"Penyebab kegagalan masih belum diketahui," ujar Morita Toru, Kepala Dinas Penanganan Bencana Takasaki. "Kami akan mendapat kritik karena sistem tanggap bencananya gagal."

Sementara tiga Pemerintah Kota lainnya, Sanjo Prefektur Niigata, Kikuchi Prefektur Kumamoto, dan Yoron Prefektur Kagoshima, tidak menerima pesan saat berlangsung latihan.

Sebagian besar pemerintah kota yang tidak menerima peringatan saat berlangsungnya latihan pada 5 dan 10 April, menjelang peluncuran rudal Korea Utara. Masalah serupa juga terjadi saat dilaksanakannya latihan gempa pada 28 Juni silam.

Pemerintah Kota Urasoe Prefektur Okinawa, mendapati sistem nirlaba bencana gagal mengirimkan informasi dari J-Alert ke warga pada 5 April. Sejak saat itu, Pemkot Urasoe mengganti piranti penerima.

Namun, piranti penerima otomatis yang terkoneksi ke perangkat J-Alert, dan sistem peringatan bencana nirkabel milik pemkot tidak bekerja pada saat transmisi uji coba pertama diterima pukul 10 pagi hari Rabu. Tapi transmisi kedua dapat diterima dengan baik.

"Kami tidak tahu mengapa sistem tidak bekerja pada transmisi pertama," ungkap salah seorang staf di suku dinas penanganan bencana kota Urasoe.

Latihan pada Rabu pekan silam menunjukkan adanya masalah pada sistem peringatan dini di Pmerintah Kota, dan diperkirakan dapat memicu kerusakan besar bila gempa Nankai benar terjadi.

Sementara tim ahli pemerintah pusat, Shimizu-Tosa di Prefektur Kochi akan dihantam Tsunami setinggi 34 meter, bila terjadi gempa Nakai.