JICA & Kementerian Perhubungan Selenggarakan Seminar Manajemen Informasi Penerbangan
Jumat, 28 September 2012 00:08
(JAKARTA-Indonesia) Japan International Cooperation Agency (JICA) Dan Kementerian Perhubungan Selasa (25/09) di hotel Millenium Jakarta Pusat, menyelenggarakan seminar mengenai Manajemen Informasi Penerbangan (Aeronautical Information Management/AIM).
Oki Tatsutsugu JICA Expert di Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, menjelaskan seminar yang dihadiri lebih dari 50 orang staf Aeronautical Information Service dibawah Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, bertujuan memberikan penjelasan mengenai Manajemen Informasi Penerbangan (AIM), memaparkan tentang layanan informasi aeronautika di Jepang, dan pengembangan sistem AIM di Indonesia.
Iwasawa Yasushi, Aeronautical Information Officer dari AIS Center of Japan Civil Aviation Bureau, yang menjadi instruktur dalam seminar ini mengawali penjelasannya dengan pemaparan mengenai situasi terkini pengelolaan informasi aeronautika di dunia yang masih banyak menggunakan kertas dan belum online.
Selanjutnya Iwasawa, menguraikan konsep AIM yang memberikan manfaat bagi seluruh sistem pengelolaan lalu lintas udara, karena memungkinkannya data statistik aeronautika, diakses secara online oleh semua pengguna di waktu bersamaan.
"Dengan diterapkannya AIM, maka faktor keselamatan lebih tinggi, kinerja pengelolaan lalu lintas udara lebih baik, penerbangan lebih efisien, dan adanya sistem yang seragam serta mudah dioperasikan," ungkap Iwasawa.
Kemudian Iwasawa menjelaskan tentang Layanan Informasi Aeronautika (AIS) di Jepang, dikelola oleh AIS Center yang menerbitkan Aeronautical Information Publication (AIP), mengeluarkan pemberitahuan kepada para pilot (Notification to Airmen/NOTAM), dan layanan informasi sebelum penerbangan.
Sejak bulan Agustus 2009, AIS Center Jepang menggunakan eAIP dengan format HTML dan PDF.
Sementara pada sesi pengembangan sistem AIM di Indonesia, dengan belajar dari proses yang sudah diterapkan di Jepang, Iwasawa menjelaskan tentang perlunya dibentuk Controlled and Harmonised Aeronautical Information Network (CHAIN) guna memperbaiki akurasi dan mutu data aeronautika, serta pengelolaannya sampai dipublikasikan, dan secara berkelanjutan meningkatkan prosesnya melalui keseluruhan rantai data aeronautika.
Setelah itu, juga perlu dikembangkan eTOD (electronic Terrain and Obstacle Data), yang nantinya digunakan dalam sejumlah aplikasi navigasi seperti ground proximity warning system dan sistem peringatan ketinggian yang aman, penenetuan prosedur kontinjensi yang digunakan dalam kondisi darurat, analisa keterbatasan pengoperasian pesawat, dan perancangan prosedur instrumen, termasuk prosedur berputar saat menunggu pendaratan.
Dan yang terakhir yakni penggunaan digital NOTAM, karena saat ini jumlah yang diterbitkan didunia setiap tahunnya terus meningkat, sehingga menyulitkan untuk mendapatkan informasi yang penting. Dengan adanya digital NOTAM, akan memudahkan pekerjaan para pilot saat menerbangkan pesawat.
Menurut Iwasawa karakteristik Digital NOTAM yakni, informasinya bisa ditempatkan pada chart, waktu efektuf bisa ditafsirkan komputer, perubahan datanya bisa jadi dirujuk silang ke informasi di lapangan, dan informasinya bisa dikonversi dalam bentuk data atau grafis, serta informasinya bisa secara langsung ditranmisikan dan masukkan ke dalam sistem komputer tanpa intervensi manual.
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|