PM Noda Rubah Pendirian Pemerintah Terhadap Isu Pembangkit Nuklir

(Tokyo-Jepang) Perdana Menteri Noda Yoshihiko secara perlahan merubah pendirian pemerintahannya terhadap isu pembangkit tenaga nuklir, berbeda dari pendahulunya, mantan Perdana Menteri Kan Naoto, yang ingin menggantinya dengan sumber energi lain, ungkap berita yang dilansir Yomiuri Shimbun Minggu (25/09).

Pada bulan Juli, yakni saat masih menjabat posisi Perdana Menteri, Kan Naoto merevisi kebijakan pemerintah Jepang yang mempromosikan penggunaan energi nuklir, dan mengekspor teknologi nuklir paska terjadinya krisis di pembangkit nuklir nomor 1 Fukushima yang dikelola Tokyo Electric Power Co (TEPCO).

PM Noda tampaknya akan mengambil pendekatan yang lebih moderat, dengan menyatakan bahwa pasokan energi listrik yang stabil, dengan menggunakan pembangkit nuklir sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi.

Menurut opini Noda, baik pertumbuhan ekonomi, dan kesehatan fiskal tidak terpisahkan dalam membangun kembali ekonomi.

Dalam Pertemuan PBB di New York, Amerika Serikat yang membahas keamananan, dan keselamatan nuklir, Noda menyatakan, "Dalam beberapa tahun terakhir, negara berkembang dan sebagian besar negara di dunia berupaya memanfaatkan energi nuklir ditengah perlunya keamanan pasokan energi, dan sebagai tanggapan atas pemanasan global. Jepang mendukung berbagai upaya yang dilakukan, dan tetap menangapinya dengan sikap positif."

Pernyataan ini mengisyaratkan, PM Noda berkomitmen melanjutkan kebijakan Jepang yang akan mengekspor teknologi, dan peralatan pembangkit nuklir.

Dalam wawancara dengan Wall Street Journal pada Selasa pekan silam, menjelang kunjungannya ke Amerika Serikat, Noda secara jelas mengungkapkan waktu pengoperasian kembali reaktor nuklir yang kini sedang dihentikan sementara karena dalam proses pemeriksaan rutin.

Meski begitu PM Noda menekankan, prasyarat terbesar adalah mendapatkan persetujuan dari Pemerintah Prefektur dilokasi berdirinya pembangkit nuklir, dan memastikan keamanan pembangkit.

"Mulai Musim Semi sampai Panas tahun depan, kita harus berupaya sebisa mungkin mengoperasikan kembali reaktor nuklir," ujar PM Noda, mengisyaratkan pembangkit nuklir yang kini sedang dalam prosen pembangunan akan beroperasi di masa datang.

Sejak menjabat posisi Perdana Menteri, Noda Yoshihiko telah mengumumkan sejumlah kebijakan.

Salah seorang sumber di pemerintahan menyatakan, hal ini dilakukan karena Noda ingin "secara jelas memperlihatkan kepada negara lain, bahwa kebijakannya berbeda dari Pemerintahan Kan Naoto.

PM Noda yakin untuk merevitalisasi ekonomi Jepang, dan mencapai kesehatan fiskal, Jepang harus mampu mengamankan pasokan listrik dengan menggunakan pembangkit tenaga nuklir.

Dalam Pidato pertamanya sebagai Perdana Menteri di parlemen, pada 13 September, Noda menyatakan dirinya akan menyusun strategi energi baru, termasuk penggunaan energi nuklir, yang diharapkan selesai pada musim panas tahun depan.

Namun, para pengamat politik menilai Noda sejauh ini belum membuat strategi energi jangka panjang.

Perdana Menteri Noda berjanji kepada parlemen, untuk berupaya sebisa mungkin mengurangi ketergantungan pada pembangkit nuklir, yang mengisyaratkan dirinya berniat mengurangi ketergantungan pada energi nuklir.

Meski PM Noda membuat pembatas yang jelas antara kebijakan dirinya dengan Kan Naoto, Pernyataan Noda mengenai pembangunan pembangkit atau reaktor nuklir baru dinilai sangat bertolak belakang.

Di satu sisi, PM Noda mengisyaratkan dalam beberapa dekade mendatang akan mengurangi pengoperasian reaktor nuklir, namun disisi lain, di sejumlah kesempatan mengungkapkan pembangunan reaktor baru masih memungkinkan namun tergantung pada kondisi di lapangan. (YS)