Tingkat Pengangguran di Jepang Bulan Januari Naik Jadi 4,6%

(Tokyo-Jepang) Tingkat pengangguran di Jepang pada bulan Januari 2012 naik menjadi 4,6 persen, setelah pada pada bulan Desember 2011 sebesar 4,5 persen, ungkap data yang dirilis Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi (MIC) Jumat (02/03).

Namun data itu bukan berarti negatif, tapi malah menunjukkan tanda pemulihan ekonomi, karena orang yang saat ini bekerja justru sedang mencari lowongan untuk gaji yang lebih tinggi.

Sejumlah pengamat ekonomi memprediksikan tingkat pengangguran akan dikisaran 4,5 persen, namun masih dibawah 5 persen.

Penurunan dipicu oleh lebih banyaknya pencari kerja, khususnya wanita, ungkap laporan awal yang dirilis MIC.

Kebanyakan dari mereka mengundurkan diri dari pekerjaannya secara sukarela, karena ingin mencari pekerjaan dengan gaji lebih tinggi, dan bukannya dipecat perusahaan, ungkap pejabat MICm meski ini menunjukkan adanya perubahan di bidang ekonomi namun tidak negatif.

Data terpisah yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan (MHLW) menunjukkan tingkat ketersediaan lapangan kerja pada bulan Januari membaik, dengan rasio lowongan kerja terhadap pencari kerja naik menjadi 0,73 dibanding bulan Desember yang di posisi 0,71, yang berarti ada 73 lowongan untuk setiap 100 pencari kerja.

Tapi para analis masih berhati-hati, dalam menilai hasil itu karena mengisyaratkan perubahan dramatis situasi lapangan kerja di Jepang.

Laporan yang dirilis Nomura Securities Co menyatakan, "Hasil bulan Januari mengisyaratkan masih perlu waktu untuk memicu pertumbuhan di lapangan kerja."

Tingkat pengangguran untuk pria sebesar 4,9 persen, dan untuk wanita naik menjadi 4,4 persen, dari sebelumnya 4,0 persen. Sedangkan jumlah pengangguran sebanyak 3,05 juta orang, atau naik 90,000 orang.

Lowongan kerja naik untuk sektor konstruksi, yang tampaknya dipicu program rekonstruksi paska terjadinya bencana gempa dan tsunami 11 Maret di wilayah timur Jepang.

Lowongan kerja di sektor teknologi tinggi turun, seiring dengan dikuranginya produksi oleh produsen mesin listrik dan komponen akibat turunnya ekspor karena penguatan yen serta suramnya situasi ekonomi dunia paska krisis hutang luar negeri di Eropa. (KN/Arry)