Jepang & Tiongkok Bersaing Dapatkan Kontrak Kereta Super Cepat Jakarta - Bandung

(Jakarta) Pemerintah Indonesia segera memutuskan dalam tahun ini apakah akan melanjutkan rencana pembangunan sistem kereta super cepat, sementara dua negara yakni Jepang dan Tiongkok saling bersaing untuk mendapatkan kontrak proyek itu, ungkap Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil Senin (30/03).


Pekan silam, Kementerian Badan Usaha Milik Negara menandatangani nota kesepahaman dengan Komisi Reformasi dan Pembangunan Nasional mengenai proyek kereta super cepat yang menghubungkan Jakarta dengan Bandung, dengan jarak sekitar 150 kilometer.


Penandatanganan dilaksanakan di sela-sela kunjungan Presiden Joko Widodo ke Beijing pada pekan silam.


Sementara Japan International Cooperation Agency, yang telah melakukan studi kelayakan sejak tahun 2012, berdasarkan pada sistem kereta Shinkansen untuk sistem kereta super cepat Jakarta-Bandung yang diusulkan. Rencananya studi kelayakan itu akan selesai pada bulan Mei.


JICA juga berencana melaksanakan studi kelayakan untuk sistem kereta super cepat rute Bandung ke Surabaya, yang jarak tempuhnya sekitar 560 kilometer.


"Sudah ada studi kelayakan yang dilaksanakan Jepang, dan kini Tiongkok juga segera menjalankannya. Kami akan dapat mengetahui mana yang lebih menguntungkan, dan yang lebih dibutuhkan Indonesia," ujar Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil.


Lebih lanjut Sofyan menjelaskan pemerintah akan membuat keputusan mengenai proyek kereta super cepat setelah studi kelayakan yang dilaksanakan Tiongkok selesai.


Pada Rabu pekan silam, pada hari terakhir di Jepang, Presiden Joko Widodo berkunjung ke Nagoya dari Tokyo dengan menaiki Kereta Shinkansen.


Sedangkan saat tiba di Beiji keesokan harinya, Joko Widodo berkesempatan melihat langsung sistem transportasi massal terintegrasi Tiongkok, dengan menaiki kereta Ekspres Bandara dari Bandara Beijing ke pusat kota.