Koike Yuriko Terpilih Menjadi Gubernur Tokyo Wanita Pertama

(Tokyo) Mantan Menteri Pertahanan Koike Yuriko berhasil memenangkan pemilihan Gubernur Tokyo dengan selisih suara cukup besar dari kandidat lainnya, dan menjadi wanita pertama yang memimpin Metropolis terbesar di Jepang, serta telah menetapkan tujuan untuk mensukseskan penyelenggaraan Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo 2020.


Sesaat setelah Komisi Pemilihan mengumumkan hasil akhir pemungutan suara, pada Minggu (31/07) malam, Koike menyampaikan ucapan terimakasih kepada para pendukungnya, “Meskipun sangat gembira dengan hasil akhir, namun saya ingin dengan menjadi Gubernur baru dapat mendorong agar Pemerintahan Metropolitan ini dapat bergerak lebih maju.”


Dalam pemilihan Gubernur Tokyo, Koike (64 tahun) yang mendapat dukungan 2.91 juta suara, berhasil mengalahkan sejumlah kandidat utama seperti mantan Menteri Dalam Negeri Masuda Hiroya (64 tahun) yang mendapat 1.79 juta suara dan juga didukung Jimin to, mantan Pembawa Acara program berita TV, Torigoe Shuntaro (76 tahun) mendapatkan 1.35 juta suara, yang didukung Partai Demokrat (Minshin to), dan tiga partai oposisi lainnya.


Koike, sebelum pemilihan Gubernur Tokyo merupakan anggota Majelis Rendah dari Partai Liberal Demokrat (Jimin to), yang ikut serta tanpa dukungan dari partainya, dan mengakibatkan suara partai terbelah. Awalnya, Koike meminta dukungan dari Pengurus Partai Cabang Tokyo namun ditolak, namun ditolak karena sudah menetapkan pemberian dukungan kepada Masuda, yang pernah menjabat Gubernur Prefektur Iwate.


Ini merupakan pertama kalinya sejak tahun 1999, dalam pemilihan Gubernur Tokyo para pemilih dihadapkan pada pilihan dua orang kandidat dari Jimin to.


Selama masa kampanye, Koike berjanji akan mengembalikan Pemerintahan Metropolitan ke tangan Rakyat Tokyo. Sementara guna menangani masalah kurangnya fasilitas penitipan anak, Koike berjanji akan melonggarkan peraturan guna meningkatkan jumlah pekerja di sektor penitipan anak.



Menurut Komisi Pemilihan Tokyo, jumlah keseluruhan suara sah yang masuk sebanyak 59.73 persen dari 11.274.080 orang yang mempunyai hak suara, naik 13.59 persen dibanding pemilihan Gubernur Tokyo terakhir pada bulan Februari 2014 yang sebanyak 46.14 persen, dan sekitar 1.708.195 orang melakukan pemberian suara lebih awal pada masa kampanye, naik 70 persen dibanding pemilihan sebelumnya.


Masa tugas Koike, yang akan berlangsung sampai masa penyelenggaraan Olimpiade 2020, dan selama kampanye menjanjikan akan merasionalisasi anggaran, telah menimbulkan kekhawatiran dikalangan panitia pelaksana.


Naiknya harga bahan material dan upaya antisipasi ancaman teror telah mengakibatkan anggaran membengkak melampaui rencana awal, dan pada akhir Maret silam Ketua Panitia Tokyo 2020 Mori Yoshiro, Menteri Olimpiafde Endo Toshiaki dan Gubernur Tokyo saat itu Masuzoe Yoichi menyepakati Pemerintah Metropolitan Tokyo akan membayar biaya tambahan konstruksi.


Namun Koike tampaknya enggan untuk menaikkan jumlah biaya yang dibebankan kepada Pemerintah Metropolitan Tokyo, dan hal ini akan berdampak pada konflik dengan Mori, mantan Perdana Menteri periode April 2000 sampai April 2001, yang bertanggung jawab pada persiapan penyelenggaraan Olimpiade.


Dalam wawancara melalui telepon pada Senin (01/08) pagi, Mori mengungkapkan harapannya untuk bekerja dengan Gubernur yang baru guna menyukseskan pelaksanaan Olimpiade.


“Hasil pemilihan tidak merubah fakta bahwa Panitia Pelaksana, Pemerintah Metropolitan Tokyo, dan Pemerintah Pusat akan bekerjasama, serta siapapun menjadi Gubernur Tokyo, kami akan melakukan yang terbaik agar pelaksanaan Olimpiade sukses,” ujar Mori.