Luhut Pandjaitan & PM Abe Bahas Proyek Kereta

Luhut Pandjaitan & PM Abe Bahas Proyek Kereta(Tokyo) Menteri Koordinator Maritim Luhut Pandjaitan bertemu dengan Perdana Menteri Abe Shinzo untuk membahas kerjasama proyek rehabilitasi jalur kereta sepanjang 750 kilometer guna mengakselerasi transportasi antara Jakarta dan Surabaya.


“Kami sudah menyiapkan studi kelayakan awal di Jakarta, dan bisa memulai konstruksinya dalam waktu sekitar enam bulan sampai satu tahun dari sekarang,” ujar Luhut Jumat (07/10).


Pemerintah Jepang berupaya memenangkan proyek rehabilitasi rel kereta yang menghubungkan Jakarta dan Surabaya, setelah kalah dari Tiongkok dalam tender proyek kereta cepat Jakarta – Bandung pada bulan September 2015.


“Bagi kami, proyek menghubungkan Jakarta dengan Surabaya lebih penting dari pada proyek Jakarta-Bandung karena jumlah penumpangnya lebih banyak,” ungkap Luhut, mantan Menteri Koordinator Politik dan Keamanan yang kemudian digeser ke posisi saat ini pada reshufle akhir Juli silam.


Proyek ini akan mengurangi durasi perjalanan Jakarta-Surabaya yang saat ini durasinya sekitar 12 jam dan ditargetkan setelah selesai menjadi hanya 5 jam saja dengan kecepatan kereta maksimum 150 kilometer per jam.


Luhut juga mengungkapkan Pemerintah Indonesia sedang mempertimbangkan melakukan relaksasi ekspor mineral mentah seperti nikel.


“Kemungkinan besar akan diumumkan dalam waktu dekat, dan diharapkan isinya akan menyenangkan semua pihak,” ujarnya.


Larangan ekspor mineral mentah diberlakukan mulai tahun 2014 yang ditujukan menambah nilai ekspor mineral, dan mengembangkan industri hilir dengan dengan memaksakan dilakukannya proses pengolahan di dalam negeri.


Jepang sendiri merupakan produsen stainless steel terbesar di dunia, dan telah menyampaikan kekhawatirannya mengenai pelarangan itu, dan menyatakan perusahaan Jepang sangat tergantung pada nikel dari Indonesia.


Namun Luhut juga mengisyaratkan Pemerintah Indonesia akan mempertimbangkan keputusan itu dengan hati-hati dan menyatakan,”Kami juga ingin mengembangkan industri hilir domestik, dan tidak hanya menjadi pengekspor bahan mentah saja.”