JF Pamerkan Lukisan Siswa SLB se-Jabodetabek

(Jakarta-Indonesia) Cacat fisik dan ketidakmampuan mental kerap dianggap jadi kendala dalam berkarya. Namun nyatanya, sejumlah siswa berkebutuhan khusus (sebutan untuk anak dengan karakteristik berbeda, termasuk cacat fisik) mampu mengungkapkan sesuatu yang berharga bagi mereka melalui sebuah lukisan.

Sebanyak 35 lukisan bertema “sesuatu yang berharga” siswa-siswi berkebutuhan khusus dari 20 Sekolah Luar Biasa (SLB), dipamerkan bersama ratusan karya siswa Jakarta Japanese School dan sekolah umum dalam Lomba Lukisan Anak Sejabodetabek ke-17 tingkat Taman Kanak-kanak (TK) hingga SMP, yang digelar di Japan Foundation, Gedung Summitmas 1, Jakarta Selatan.

Hal ini diharapkan dapat meningkatkan rasa percaya diri para siswa berkebutuhan khusus dan mengajak mereka untuk bersosialisasi, sekaligus mengenal Jepang melalui lukisan karya siswa JJS.

“Hingga sekarang, kami belum mengikutsertakan lukisan-lukisan ini dalam lomba, karena mempertimbangkan keistimewaan mereka. Namun semua lukisan yang kami terima, dipajang bersama lukisan hasil seleksi, sebagai bentuk apresiasi”, ujar Diana S. Nugroho, Senior Program Officer Cultural Section JF.

Acara tahunan yang diselenggarakan Japan Foundation (JF) bekerjasama dengan Jakarta Japan Club (JJC) ini pada awalnya tidak mengikutsertakan siswa berkebutuhan khusus. Baru pada tahun 2007, seorang guru SLB datang melihat pameran lukisan lomba dan menyatakan keinginannya agar para siswa dengan “keistimewaan” mereka juga dapat ikut berkarya.

Diana juga menyatakan, meningkatnya jumlah sekolah SLB yang mengirimkan lukisan ke JF dari tahun ke tahun, tidak menutup kemungkinan karya siswa berkebutuhan khusus nantinya juga akan diikutsertakan dalam lomba.

Dari 500 lukisan yang masuk, terpilih 110 karya dari siswa TK hingga SMP sekolah-sekolah di Jabodetabek, antara lain Fransiscus, Tarakanita Gading Serpong, SDN Gunung 01 Pagi, SDK 10 Penabur, dan SMPN 8 Kota Tangerang Selatan. Selain itu terdapat 100 lukisan siswa Jakarta Japanese School.

“Awalnya kami ingin tahu apa yang dianggap berharga bagi anak-anak Indonesia maupun Jepang. Saat lukisan mereka dipajang, diharapkan anak-anak Indonesia dapat mengenal Jepang melalui lukisan anak-anak Jepang, dan sebaliknya”, tambah Diana.

Seperti salah satu lukisan karya Yokoi Misaki, salah seorang murid JJS, memperlihatkan gambar dirinya sendiri bersama temannya yang berwarga negara Indonesia, sebagai sesuatu yang berharga baginya.

Sementara, pameran lukisan lomba ini akan digelar hingga 11 Januari mendatang, dengan hari libur pada tanggal 24 hingga 25 Desember dan 29 Desember hingga 3 Januari tanpa dipungut biaya. (AV)