Distribusi Sumbangan Dari Luar Negeri Tertunda, Karena Aturan Ketat Pemerintah Jepang
Ditulis oleh Administrator Rabu, 30 Maret 2011 00:33
(Tokyo-Jepang) Penawaran bantuan, dan sumbangan dari seluruh dunia telah disampaikan, sejak gempa bumi bumi besar yang melanda wilayah Timur Laut Jepang 11 Maret silam, namun pasokan tersebut belum diterima di daerah yang hancur, atau pihak berwenang Jepang belum siap menerima dukungan.
Pemerintah Jepang harus merespon bantuan dengan cara yang lebih fleksibel, sehingga sumbangan barang-barang dari luar negeri tidak sia-sia.
Menurut Kementerian Luar Negeri (Gaimu Shou), Pemerintah telah menerima tawaran bantuan dari 133 negara, dan wilayah, serta 39 organisasi internasional, pada pukul 11 malam, Jumat (11/03), yang terdiri atas pengiriman personil, dan pasokan bantuan.
Menurut berita yang dilansir Yomiuri News Selasa (29/03), pada 11 Maret silam Pemerintah menerima kiriman bantuan personil, yang terdiri regu penyelamat dari 21 negara, wilayah, dan organisasi internasional, yang kemudian bertambah 26 pasokan bantuan pada Minggu (13/03).
Pemerintah melaporkan, telah memasok barang sumbangan ke area bencana, diantaranya 100.000 liter air, 80 ton makanan, dan 40 ton pakaian, serta selimut dari pasukan Amerika Serikat (AS) di Jepang. Cina juga turut menyumbangkan 2.000 selimut, 900 tenda, serta 2.500 selimut, 800 sweater, dan bagian lain pakaian musim dingin dari Mongolia.
Banyak pemerintah luar negeri menunjukkan dukungan dengan segera pasca gempa. Namun, keterlambatan pengaturan pengiriman, membuat pendistribusian barang terhambat.
Pemerintah Singapura pada 11 Maret mengumumkan, mengirimkan 60 ton pasokan bantuan ke area bencana, termasuk 20.000 botol air mineral, 4.400 peralatan darurat, 4.350 selimut, dan 200 matras. Namun barang tersebut baru benar-benar dikirim, delapan hari kemudian pada Sabtu (19/03).
"Kami tidak dapat mengirim bantuan tersebut, sebelum mendapatkan lampu hijau dari Pemerintah Jepang", ujar Palang Merah Singapura.
Pejabat pemerintah Singapur mengungkapkan, negara meminta Pemerintah Jepang, pasokan bantuan dikirim menggunakan pesawat militer, agar mengefisienkan pengangkutan, tapi tawaran tersebut ditolak oleh Pemerintah Jepang.
Akhirnya, pasokan dikirim ke bandara Narita menggunakan pesawat pribadi, dan Pemerintah Singapura menyewa truk dari perusahaan pengiriman swasta Jepang, untuk mengantar pasokan ke daerah yang dilanda gempa.
Negara Uni Eropa juga turut menyediakan pasokan bantuan pada 11 Maret, namun tidak menerima permintaan item yang diperlukan Pemerintah Jepang hingga Selasa (15/03). Meskipun pengiriman sedikit memakan waktu, namun pada Sabtu (26/03), selimut, dan matras telah dibagi-bagikan di lokasi bencana.
Menurut Badan Penanggulangan Bencana (BPNB), Pemerintah Indonesia telah menyumbang 10.000 lembar selimut. Mulanya selimut yang disiapkan Indonesia ditolak, karena terlalu tipis bagi daerah dingin yang dilanda bencana. Sehingga Pemerintah kembali menyediakan selimut yang lebih tebal.
Pemerintah Thailand juga berusaha mengirimkan bantuan 10.000 ton beras, dan 5.000 ton beras ketan, yang akan dimasak bersama beras Thailand, sehingga beras akan sesuai dengan selera orang Jepang. Namun belum dikirim, karena "kami diberitahu oleh Pemerintah Jepang, bahwa Jepang memiliki cukup persediaan beras", ujar Kementerian Luar Negeri Thailand.
Kuatir dengan bocornya radiasi pembangkit Nuklir nomor 1 Fukushima, Ukraina yang sebelumnya pernah mengalami bencana dari krisis nuklir di pembangkit listrik Chernobyl, mengirimkan satu ton obat-obatan, termasuk diantaranya pil yodium, bagi warga Ukraina yang tinggal di Jepang, serta 2.000 lembar selimut.
Namun, pasokan medis dari Ukraina dikembalikan lagi oleh Pemerintah Jepang, karena "obat tersebut tidak didisertifikasi untuk digunakan di Jepang", ujar pejabat pemerintah Ukraina.(IM/YN)
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|
