Yuri Pratama Pelopor Pembudidayaan Bulu Babi di Indonesia
Senin, 08 Oktober 2012 00:41
(JAKARTA-Indonesia) Untuk sebagian besar nelayan di Indonesia, bulu babi bukanlah komoditas laut yang bernilai ekonomis, karena tubuhnya hitam dan penuh dengan duri panjang. Berbeda dengan di Jepang, yang mengolah bulu babi untuk dijadikan makanan, dan bahkan telah menjadi industri bernilai jutaan dolar AS.
Di Indonesia, pada awal tahun 2010, Yuri Pratama, yang tidak mempunyai latar belakang nelayan justru menjadi pionir pembudidayaan bulu babi di Pulau Tidung, kepulauan Seribu.
Menurut Yuri, awal ketertarikan membudidayakan bulu babi dipicu sewaktu melakukan riset ekowisata (ecotourisme) di Pulau Menjangan, Gilimanuk, Taman Nasional Bali Barat.
Disela-sela kegiatan riset Yuri kerap kali melihat nelayan setempat membuang bulu babi membersihkan karang dan menyingkirkan bulu babi, yang selanjutnya dibenamkan ke dalam pasir.
"Bulu babi dikumpulkan dan dikubur dalam pasir agar tidak mencederai nelayan dan para penyelam yang banyak datang menikmati keindahan bawah laut kawasan itu. Kehadiran bulu babi itu juga mengganggu pertumbuhan karang-karang disana," ungkapnya.
Setelah kembali ke Jakarta, Yuri pun mulai mencari informasi di internet mengenai bulu babi. Selain itu, ia pun juga mengunjungi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) guna menemuii para pakar kelautan yang memahami potensi bulu babi.
Dari hasil mengunjungi sejumlah situs web, dan bertemu sejumlah pakar, Yuri menyimpulkan kalau bulu babi merupakan produk bernilai ekonomi tinggi, dan bisa digolongkan sebagai zero waste product, artinya hampir semua bagian tubuhnya dapat dimanfaatkan dan diolah menjadi produk bermanfaat.
"Cangkangnya bisa dijadikan sebagai bahan baku kerajinan tangan, dan bisa pula diolah menjadi tepung sebagai bahan pakan ternak. Sementara bagian ususnya, dapat diolah menjadi pupuk organik," ungkap Yuri.
Yuri juga menemukan informasi bulu babi ternyata juga dibutuhkan perusahan farmasi untuk bahan suplemen, karena mengandung protein, vitamin A. B1, juga zat besi, dan asam amino yang berguna untuk kesehatan manusia.
Dari internet, Yuri juga mendapati info bahwa di Jepang, telur bulu babi merupakan komoditas yang sangat menarik, karena menjadi diolah menjadi sushi.
Akhirnya Yuri berkesimpulan bulu babi bisa menjadi komoditi unggulan Indonesia. Sayangnya masih belum ada yang berniat membudidayakan bulu babi.
Melihat adanya peluang bisnis itu, Yuri pun mengumpulkan modal untuk memulai usaha, serta mencari lokasi yang sesuai untuk melakukan budidaya.
Banyak kendala yang dihadapi sejak awal memulai usaha, namun paling susah yakni meyakinkan para nelayan di Pulau Tidung, di Kepulauan Seribu, yang akhirnya dipilih menjadi lokasi untuk membudidayakan bulu babi.
Cukup lama waktu yang dibutuhkan untuk meyakinkan para nelayan agar mau menjadi mitra pembudidayaan bulu babi, pada awalnya hanya tiga nelayan namun kini sudah lebih dari 20 orang.
Setelah kendala budidaya terselesaikan, masih ada hal lain yang harus dipelajari Yuri dari awal, mulai standar mutu, dan memasarkan telur bulu babi ke restoran Jepang yang ada di Jakarta, yang biasanya diolah untuk menjadi uni sushi.
Tidak mudah meyakinkan sejumlah restoran Jepang di Jakarta untuk menggunakan bulu babi hasil budidaya Yuri.
"Saya berulang kali datang ke beberapa restoran Jepang sambil membawa sampel, ada yang menanggapi tapi memang masalah mutu masih terus diperbaiki," ujar Yuri.
Panen pertamanya yang sebanyak 50 kg telur bulu babi, habis digunakan untuk mengirimkan contoh produk dan promosi guna memperkenalkan hasil budidayanya.
Pengelola restoran yang terbiasa dengan produk impor masih ragu membeli telur bulu babi dari Yuri, meskipun harganya jauh lebih murah yakni Rp 250 ribu/kg, sementara produk impor harganya di kawasan ASEAN US$ 30 dan di Jepang mencapai US$300/kg.
Sebagian besar Restoran Jepang di Jakarta sebelumnya mendapat pasokan bulu babi dari Jepang, namun pasca krisis nuklir di pembangkit nomor 1 Fukushima, pemerintah Indonesia memperketat pengawasan impor bahan makanan dari Jepang, sehingga berdampak pada turunnya pasokan telur bulu babi dari Jepang.
Karena kesulitan pasokan ini, tampaknya menjadi memicu pengelola resto jepang untuk mencari sumber lain guna mendapatkan bulu babi.
"Masukan dari chef restoran Jepang sangat membantu untuk perbaikan mutu, mereka meminta telur bulu babi dengan spesifikasi tertentu," ungkap Yuri.
Setelah berhasil menjadi pemasok bagi sejumlah restoran Jepang di Jakarta, Yuri berupaya melakukan diversifikasi usaha, namun masih tetap berbasiskan bulu babi.
Yang dilakukannya yakni bekerjasama dengan perusahaan farmasi di Semarang untuk mengembangkan produk suplemen. Selain itu juga mengolah bulu babi untuk krupuk, yang bermitra dengan industri rumahan di Kepulauan Seribu.
Menurut Yuri, diversifikasi usaha diilhami oleh seorang pengusaha yang mengimpor buah-buahan. Untuk buah dengan mutu baik di pasok ke supermarket, sementara yang mutunya agak rendah di jual ke kedai jus yang bertebaran di seantero Jakarta.
Kini Yuri sedang mengupayakan lahan produksi baru di Karawang, yang sekaligus terintegrasi dengan pabrik pengolahan. Juga menjajaki kemungkinan ekspor produk olahan bulu babi ke Jepang, yang saat ini masih dalam proses uji laboratorium. (Arry Raymond)
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|
