Atambua 39°C Kembali Ingatkan Nasib Pengungsi Ex Timor Timur
Rabu, 07 November 2012 00:41
(Jakarta-Indonesia) Atambua 39° Celsius film terbaru garapan Riri Riza dan Mira Lesmana mengingatkan kembali nasib masyarakat pengungsi kota perbatasan, 13 tahun pasca terpisahnya Timor Timur dari Indonesia.
“Dulu tahun 1999 semua perhatian ke Atambua. Tapi 13 tahun berlalu, kota itu nampaknya sudah terlupakan. Hal ini mendorong saya untuk mengingatkan kembali dengan mengangkat kehidupan masyarakat di sana, khususnya para pengungsi yang pertama kali datang tanpa tempat tinggal dan pekerjaan serta terpisah dari keluarganya di Timor Leste”, ungkap Mira Lesmana dalam acara pemutaran film dan jumpa pers di Gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI), Kuningan, Senin (5/11) silam.
Riri menambahkan, “Saat pemutaran perdana di festival film Tokyo, saya sempat ditanya, apakah melalui film ini ingin memprovokasi kembali masalah. Saya tidak tertarik politik, saya bicara tentang budaya dan keadaan sekarang yang sudah berubah karena terpotong oleh batas negara”, ujarnya.
24 dan 25 Oktober silam, Atambua 39° Celsius tayang perdana di Tokyo International Film Festival (TIFF) 2012, dan terpilih ikut lomba. Mira mengungkapkan, saat sesi tanya jawab di Tokyo, banyak sekali wartawan yang tertarik tentang Atambua, khusunya kehidupan di sana.
“Sejumlah wartawan bahkan sampai ada yang mengaku malu karena tidak tahu apa-apa tentang keadaan Indonesia Timur serta dampak dari kemerdekaan Timor Leste. Banyak sekali yang ingin tahu tentang kehidupan Kota Atambua sekarang setelah menonton film ini”, ujar Mira.
Saat pemutaran perdana di Jepang dengan kapasitas ruangan 650 bangku (habis terjual), turut hadir Duta Besar Timor Leste untuk Jepang, dia mengaku senang serta berterima kasih atas pembuatan film Atambua 39° Celsius.
“Dia berharap film ini dapat diputar di Timor Leste agar masyarakat di sana juga dapat menonton. Dia juga bilang kalau dia bangga, karena film ini mengangkat kehidupan dan realita di sana”, tambah Mira.
Atambua 39° Celsius menceritakan tentang Joao, remaja yang tinggal bersama ayahnya (Ronaldo) sebagai pengungsi di Atambua. Joao sejak kecil hidup terpisah dengan ibunya yang tinggal di Timor Leste. Suatu hari, Joao bertemu dengan teman lamanya, Nikia yang kembali ke Atambua untuk menyelesaikan ritual kematian kakeknya dengan membawa sebuah trauma.
Kehidupan Joao dalam cerita yang setiap hari bekerja sebagai tukang ojek, tidak sekolah dan bermalas-malasan, menggambarkan kehidupan remaja di Atambua, salah satunya Gudino Soares, aktor pemeran Joao.
“Film ini adalah cerita kehidupan sehari-hari saya di Atambua. Setiap hari saya mengurus sawah dan kerja sambilan jadi tukang ojek. Ayah saya pun memiliki karakter yang sama dengan Ronaldo, seorang milisi yang anti kemerdekaan Timor Leste dan sangat mencintai kesatuan NKRI. Ini pertama kalinya saya nonton film Atambua, saya senang berkat film ini kami dapat hadir di sini”, tutur Gudino saat ditanya kesannya tentang Atambua 39° Celsius yang seluruhnya menggunakan bahasa Tetun (bahasa Timor).
Sementara, Petrus Beyleto, aktor pemeran Ronaldo yang mengaku menangis saat menonton Atambua 39° Celsius. “Saya terharu, film ini seperti menoreh luka baru di atas luka lama. Saya sangat berterima kasih kepada Riri dan Mira karena sudah mau melihat apa yang dipikul Atambua dan memperlihatkan kepada semua orang ke dalam bentuk film. Semoga akan ada perhatian dari orang pusat terhadap Timor, banyak yang perlu dilihat di sana.”
Rencananya, film dengan biaya produksi 1,2 miliar ini, akan diputar di 20 bioskop dalam negeri, seperti Jakarta, Bandung, Solo, Surabaya, Yogyakarta, Makassar, Malang, dan Semarang pada 8 November mendatang serta di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan menggunakan layar tancap.
“Sekarang kami sedang mencari dana agar bisa memutar film ini di seluruh NTT, khususnya Atambua secara gratis. Di sana masih minim listrik, jadi harus pakai layar tancap. Mudah-mudahan bisa diputar Januari awal di sana”, ujar Mira. (AV)
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|
