Pendiri Pappa Tarahumara Gelar Lokakarya Olah Tubuh di Salihara

(Jakarta) Koike Hiroshi, seniman teater asal Tokyo menggelar lokakarya dengan tema olah tubuh dan penemuan diri pada (19-20) Januari di gedung Helatari, Teater Salihara, Jakarta Selatan, yang juga dihadiri seluruh pemain Mahabarata “Bab kedua” sebagai pemanasan sebelum pementasan Mahabarata yang akan digelar pada akhir pekan ini.


Panggung seni pertunjukan selalu mempunyai daya tariknya sendiri, kemampuan pemeran dalam memainkan lakon yang dipentaskan seperti mempunyai magnet tersendiri bagi peggemar setia. Hal tersebut juga dirasakan Hiroshi Koike, seorang sutradara, penulis, pengajar seni sekaligus the President of P.A.I. (Performing Art Institute) asal negeri Sakura.


“Saya memilih seni pertunjukan teater karena semua unsur seni ada di dalamnya, dan memilih teater adalah panggilan hati saya,”ungkap pria lulusan jurusan sosiologi tersebut saat ditemui di Salihara, Selasa (20/01).


Seperti halnya memilih sosiologi sebagai jurusan di kampus, Koike ingin mempelajari semuanya dari berbagai aspek dan teater juga menyangkut semua aspek seni yang ada, teater adalah induk seni yang lengkap.Koike mengungkapkan, hasratnya untuk belajar banyak hal selalu tinggi, atas dasar itu ia memilih jurusan yang banyak disiplin ilmu didalamnya.


“Saya dulu pilih kuliah jurusan sosiologi karena di dalamnya saya bisa mempelajari banyak hal seperti politik, budaya hingga bahasa, semua ilmu sosial hampir semua ada. Demikan pula saya memilih teater, karena semua unsur seni ada di dalamnya,”lanjut Koike.


Kiprah pria kelahiran kota Hitachi Prefektur Ibaki, itu sudah tidak asing lagi bagi penikmat seni pertunjukan, tak hanya di dalam negeri karirnya sudah dikenal masyarakat dunia sejak mulai mendirikan sebuah perusahaan seni pertunjukan “Pappa Tarahumara” di tahun 1982.


Karirnya semakin berkembang dengan membuat lebih dari 55 pementasan hasil arahannya diberbagai projek di berbagai negara negara di dunia, hal tersebut membuat namanya semakin dikenal dikalangan penikmat seni.


Hiroshi mengatakan kecintaannya pada dunia teater berawal dari kegemarannya mengolah tubuh. Dalam seni teater olah tubuh merupakan hal penting yang harus dilakukan demi menunjang kebugaran tubuh disaat sebelum hingga sesudah pementasan. Selain itu, dalam olah tubuh juga diajarkan olah rasa, di mana hal tersebut dapat melatih kepekaan kita terhadap lingkungan sekitar. Kelima panca indera digunakan dalam olah rasa, terutama kulit sebagai indera peraba.


Menjelang pementasan Mahabarata, Koike Hiroshi dan Teater Salihara menyelenggarakan lokakarya yang digelar selama 2 hari (19-20/01) di gedung Helatari, Salihara, Jakarta Selatan, dengan tema latihan mengolah tubuh dan penemuan diri. Lokakarya tersebut dihadiri oleh dua puluh peserta yang terpilih adalah hasil seleksi pihak Salihara sebagai penyelenggara yang dipilih berdasarkan pengalaman di dunia seni peran.


Peserta datang dari berbagai kalangan dan profesi, salah satu peserta adalah Arief Darmawan, seorang pengajar seni disalah satu Sekolah Menengah Kejuruan di Jakarta, “Senang sekali rasanya bisa berlatih dengan Koike Hiroshi dan seniman Asia lainnya, mengetahui tata cara pengajarannya yang bisa diterapkan ke anak didik saya,”ujarnya bersemangat.


“Ruang, tubuh dan waktu adalah 3 aspek penting dalam teater, selalu saya terapkan,” terang Koike. Selain olah tubuh, Koike juga melatih olah rasa ke dua puluh peserta lokakaryanya di mana kepekaan seluruh indera dimainkan, kesabaran, ketengangan dan imajinasi. Baginya memainkan imajinasi lebih penting ketimbang teknik di atas pentas, karena imajinasi bagai sebuah jembatan yang menghubungkan realita dan impian manusia.


Mahabarata “bab kedua” adalah tema yang diusung Koike dalam pertunjukan yang akan berlangsung pada 23-24 Januari mendatang. Tema itu diangkat Koike bukan tanpa alasan, ia mengatakan Mahabarata adalah sebuah legenda yang amat populer dinegara-negara Asia Tengah dan Tenggara.


“Karena hal itu saya menggandeng ke empat negara tersebut karena tingkat popularitas Mahabarata yang tinggi, serta kesamaan historis antara ke empat negara yang saling bertautan,”lanjut Koike.


“Meskipun di Jepang, Koike mengatakan cerita Mahabarata tidak dikenal sebagian besar masyarakatnya. Namun Asia Timur mempunyai cerita legendanya sendiri,”tutupnya.


Lokakarya ini digelar dua hari sebelum pementasan Mahabarata “bab kedua” yang akan dipentaskan pada hari Jum’at-Sabtu (23-24) Januari pukul 20.00 WIB di Teater Salihara, Jakarta Selatan.