Pelajar Kelainan Gender Jalani Terapi Hormon Februari Mendatang di Osaka
Kamis, 20 Januari 2011 00:37
(Osaka-Jepang) Pelajar berusia 12 tahun, yang mengalami kelainan gender, rencananya akan dikirim ke Rumah Sakit Akademi Medis Osaka, untuk menjalani terapi hormon mulai Februari mendatang, guna menghambat perubahan fisik yang terjadi saat remaja.
Menurut berita yang dilansir Mainichi Shimbun Rabu (19/01), prosedur terapi hormon pelajar yang lahir sebagai laki-laki, namun menjalani kehidupan sehari-hari sebagai perempuan, merupakan yang pertama kali dilakukan terhadap pasien di bawah usia 15 tahun.
“Selama tidak menyebabkan efek samping serius, terapi serupa dapat diterapkan terhadap pasien di bawah umur,” ujar Profesor Oshima Toshiyuki dari Fakultas Hukum Universitas Internasional Kyushu.
Menurut Oshima, yang juga menjabat sebagai penasehat Japanese Society of Gender Identity Disorder, terapi akan dilakukan dengan menyuntikkan obat antihormon satu kali seminggu, untuk mengatur pengeluaran hormon, sehingga pasien tidak merasa tertekan saat mengalami perlakuan fisik dari pria dewasa.
Terapi akan menghabiskan biaya sebesar 35,000 yen untuk setiap sesi, dan tidak mendapatkan tunjangan dari pemerintah.
Sebelumnya, Universitas Okayama pernah melakukan terapi hormon kepada pasien berusia 16 tahun, yang lahir sebagai perempuan namun menjalani hidup sebagai laki-laki. (Nova/MN)
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|
