Update Terakhir: 23:57 - 19 Jan 2012.

Perusahaan Iklan Digital Asal Jepang Buka Anak Perusahaan di Indonesia [12/01-20:25]

Penilaian Pengguna: / 1
JelekBagus 

(Jakarta-Indonesia) Semakin banyaknya jumlah pengguna internet, dan pemakai telepon seluler pintar di Indonesia, mendorong Adways Co Ltd, perusahaan iklan digital asal Jepang mendirikan anak perusahaan di Indonesia, yang memfokuskan pada pengembangan bisnis penyediaan jasa pemasaran melalui internet, dan game online.


Takano Hayato Presiden Direktur PT Adways Indonesia, dalam kesempatan wawancara dengan Halo Jepang! pada pertengahan Desember silam menjelaskan, jumlah populasi yang besar, dan jumlah pengguna internet yang tinggi di Indonesia menjadi pemicu Adways untuk membuka anak perusahaan di Indonesia.

"Sebelum di Indonesia, Adways sudah membuka sejumlah anak perusahaan di mancanegara, antara lain di Cina, dan Inggris," ungkap Takano.

"Pada tahun 2010, perusahaan mempertimbangkan untuk melakukan ekspansi bisnis, pilihannya yakni India atau Asia Tenggara, dan saat itu saya menjabat posisi General Manager untuk wilayah Jepang Barat, mendengar rencana itu saya langsung bilang kepada Presiden Direktur agar diberi kesempatan menangani pembukaan kantor baru ini," papar Takano.

Menurutnya, dibanding India, wilayah Asia Tenggara lebih mudah karena sebelumnya sudah banyak perusahaan Jepang yang beroperasi.

"Pada Desember tahun 2010, saya ke Singapura untuk melakukan riset, karena sebagian besar perusahaan Jepang yang memasuki pasar Asia Tenggara memiliki kantor perwakilan di negara itu, kemudian saya pergi ke Jakarta, dan selanjutnya diputuskan untuk membuka anak perusahaan di Jakarta," ungkap Takano. "Yang mendasari keputusan pembukaan kantor Adways di Jakarta yakni, jumlah populasi yang besar, serta banyaknya pengguna telepon seluler (ponsel) dan internet di Indonesia."

Di Jepang, kata Takano, bisnis Adways fokus pada advertisement network untuk ponsel dan komputer pribadi. Sekitar 80 persen penerimaan berasal dari mobile publisher, dan 20 persen dari internet. Dan tahun 2010, penggunaan ponsel pintar meningkat pesat, jadi kami juga kembangkan sistem advertisement network untuk ponsel pintar, dan ini juga jadi salah satu alasan utama masuknya Adways ke pasar Indonesia, yakni setelah melihat tingginya pertumbuhan pengguna ponsel pintar di Indonesia.

"Sementara untuk pasar Indonesia, awalnya Adways berharap bisa menyediakan sistem advertisement network, tapi karena tidak bisa memprediksi masa depan pasar lokal, maka untuk saat ini difokuskan pada penyediaan manajemen iklan online untuk perusahaan, dan sudah beberapa perusahaan besar Jepang yang beroperasi di Indonesia menjadi klien kami," ungkap Takano. "Di tahap awal, kami fokus pada perusahaan Jepang, tapi secara bertahap kami mengembangkan sistem advertisement network yang cocok untuk pasar lokal, dan selanjutnya menyediakan layanan ini untuk perusahaan Indonesia."

Menurut Takano, sejak memulai bisnis di Indonesia pada bulan Juni silam, sampai saat ini sudah empat perusahaan Jepang menjadi klien Adways Indonesia.

Sementara mengenai rencana bisnis jangka menengah, dan panjang Adways Indonesia, Takano mengungkapkan, Pada tahun 2015, ASEAN Community dimulai dan perusahaan memprediksikan Indonesia menjadi pemimpin ASEAN di sektor politik dan ekonomi, langkah selanjutnya Adways menjadikan Indonesia sebagai batu loncatan untuk mengembangkan pasar ASEAN.

"Untuk itu, rencananya pada tahun 2012 kami akan akan menambah empat orang Jepang di kantor Adways Indonesia, dan pada tahun 2013 akan mengembangkan Pusat pengembangan game di Bandung atau Surabaya," ungkap Takano. "Saat ini, untuk game sosial, Adways punya pusat pengembangan di Shanghai dan Hanoi, namun ada kendala bahasa, jadi kami ingin mengembangkannya disini serta merekrut programmer warga Indonesia."

Lebih lanjut Takano menjelaskan, selain berupaya mengembangkan bisnis Adways di pasar Indonesia, antara lain dengan mengundang pengembang game sosial dari Jepang memperkenalkan produknya di Indonesia, di sisi lain juga turut membantu perusahaan Indonesia, khususnya pengembang game yang ingin memasuki pasar Jepang. (Arry Raymond)