Peduli Terhadap Hewan Jalanan, Enjuku Tampilkan Kisah Kucing Nyanko di GKJ
Rabu, 03 Oktober 2012 00:41
(Jakarta-Indonesia) Kelompok teater musikal mahasiswa Enjuku, pada tanggal 27 dan 28 Oktober mendatang, akan menggelar pertunjukkan bertema “Wagahai wa Nyanko de Aru” di Gedung Kesenian Jakarta, Kebayoran Baru, sebagai salah satu bentuk kepedulian terhadap hewan jalanan.
“Melalui drama ini, kami ingin mengajak penonton untuk lebih peduli dengan hewan, khususnya hewan jalanan atau yang dibuang”, ujar Nur Shabrina Salsabila (20), ketua Enjuku yang biasa akrab disapa Bila.
“Wagahai wa Nyanko de Aru” bercerita tentang seekor kucing bernama Nyanko yang dipungut dan dipelihara oleh seorang anak bernama Yuri. Drama musikal ini mengisahkan kehidupan Nyanko sejak pertama kali bertemu Yuri hingga meninggal pada saat pernikahan majikannya. Pada puncak cerita, yang berlatar belakang dunia setelah kematian, Nyanko disuruh memilih ingin dilahirkan kembali sebagai apa.
Bila juga mengungkapkan selama 10 bulan latihan, para pemeran tidak hanya belajar teknik vokal dan pelafalan bahasa Jepang, tapi juga mencari informasi tentang kucing, seperti kebiasaan, tingkah laku, dan makna kucing bagi orang Jepang.
“Dalam peribahasa Jepang, banyak sekali penggunaan kata “neko” (kucing), tapi kalau ditelusuri lebih dalam, semua peribahasa itu memiliki arti yang buruk. Jadi dengan drama ini, kami juga ingin mencoba mengubah pandangan itu. 7orang dari 8 pemeran utama nanti akan berperan sebagai kucing. Saat drama berlangsung, penonton akan diajak ke dunia kucing”, ujarnya.
Judul drama musikal berdurasi 120 menit ini terinspirasi dari novel karya Natsume Soseki berjudul “Wagahai wa Neko de aru” (I am a Cat) yang diterbitkan pada tahun 1905 silam, namun dibawakan dengan cerita orisinal karangan Kaikiri Sugako, penasihat sekaligus pengajar teater Enjuku.
Kata “Nyanko” sendiri merupakan panggilan untuk kucing yang biasa diucapkan oleh anak kecil di Jepang.
Selain menikmati pertunjukkan, penonton khususnya orang Indonesia diharapkan dapat mengenal kebudayaan serta bahasa Jepang 100 tahun yang lalu, karena drama ini berlatar belakang tahun 1912, dilengkapi dengan kostum dan peralatan, seperti kimono dan baju pengantin.
Bila juga menambahkan, “Meski pemeran utamanya kucing, tapi drama ini memiliki pesan untuk tidak menyesali apa yang sudah diberikan”, ujarnya.
Tiket drama musikal “Wagahai wa Nyanko de Aru” sudah dapat dibeli di Jakarta Communication Club, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan dengan harga Rp.60,000,- untuk lantai dasar, dan Rp.35,000,- untuk balkon. (AV)
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|
| BERITA HIBURAN & GAYA HIDUP LAINNYA |


