Tren Hidup Minimalis Kian Marak Dikalangan Muda

(Tokyo) Gaya hidup minimalis menjadi pilihan bagi kaum muda mudi di Jepang. Sesuai kondisi tempat tinggalnya, membuat mereka untuk berpikir ulang untuk membeli berbagai jenis barang. Hal ini membuat Sasaki Fumio memutuskan membuat buku mengenai gaya hidup minimalis untuk disebarkan dikalangan generasi kuda.

“Saya terkejut mendapati bisa hidup di tempat sederhana, yang hanya dapat memuat barang yang sedikit,” ujar Sasaki Fumio, karyawan perusahaan iklan di Tokyo.

Pria yang lahir di Prefektur Kagawa ini, setidaknya hanya dapat mengkoleksi sedikit pakaian dan kasur berukuran kecil yang mengisi kamar dalam apartemennya yang seluas 20 meter persegi. Untuk mengkosongkan kamarnya, ia harus meletakkan kasurnya di kamar mandi.

Sebelum mengubah hidupnya menjadi sederhana, Ia banyak mengkoleksi buku, berbagai perlengkapan alat musik, juga mengkoleksi berbagai jenis pakaian. Kini ia memilih untuk menjualnya kepada orang yang menginginkannya.“Saya sering membeli buku, tapi tidak pernah dibaca, mengkoleksi alat musik, tanpa pernah memainkannya, dan tidak mengenakan pakaian yang telah saya beli. Inilah kebiasaan saya membeli barang hanya berdasarkan keinginan, bukan berdasarkan kebutuhan,” lanjutnya.

Setelah menyadari kebiasaannya tidak baik untuk kehidupannya, ia memilih untuk belajar menjalani hidup untuk lebih minimalis. Selama menjalani gaya hidup barunya, ia merasa dapat mengendalikan diri untuk mengkoleksi barang-barang yang diinginkannya.

“Ketika hendak membaca buku saya mampu berpikir lebih konsentrasi dan mengerjakan pekerjaan lebih efisien dari gaya hidup sebelumnya,” ujar Sasaki yang aktif mengunggah artikel di blognya. Kini, ia lebih memilih menabung untuk keperluan jalan-jalan dan berkumpul bersama teman.

Pada 12 Juni silam, Sasaki telah merilis buku di Yurakucho berlokasi di kota Chiyoda, Tokyo yang merupakan cabang dari Sanseido Bookstore Ltd., dengan judul “To us, not the other things necessary” dengan rata-rata pembaca berusia 20 hingga 30 tahun.

Kato Ito (26), seorang pekerja lepas produser musik, memutuskan untuk hidup sederhana setelah membaca buku tersebut. Kini, ia hanya memiliki laptop, kamera digital, dan smartphone, sama seperti barang-barang yang berada di ranselnya.

Ito sering mengelilingi wilayah Jepang dan mancanegara. Selama diperjalanan, ia memilih untuk menginap di hotel yang murah, dan melakukan pekerjaan melalui internet. Hidup sederhana membuat dirinya berpikir mendalam, juga dapat meningkatkan ide kreatif.

Hidup sederhana, membutuhkan perhatian khusus sama seperti berbisnis,” ujar Imamura Satoru, mantan direktur asosiasi bank dan menjadi penasihat lebih dari 100 perusahaan di Jepang mengenai cara meminimalkan menggunakan barang yang tidak diperlukan, juga mengkampanyekan tekniknya.

Lain lagi, dari Perusahaan percetakan di Kyoto yang telah membuat peraturan sejak dua tahun lalu berdasarkan petunjuk dari asosiasi perusahaan. “Hasilnya, sebesar 30 persen telah membantu dalam melakukan pembukuan setiap tahunnya dalam hal penjualan dan keuntungan,” lanjutnya.