Nintendo, dari Pembuat Kartu Jadi Raksasa Game

(JAKARTA-Indonesia) Anak-anak kelahiran pasca tahun 80an tak asing dengan video game merek Nintendo dengan permainan semacam ‘Super Mario Bross’. Meskipun sangat populer, hanya sedikit yang mengetahui orang di balik kisah suksesnya. Yamauchi Hiroshi, presiden Nintendo Co. Ltd, adalah sosok pengubah perusahaan kecil pembuat kartu ini menjadi perusahaan video game bernilai jutaan yen.

Pria kelahiran 1927 ini mengambil alih kepemimpinan Nintendo dari kakeknya yang menderita stroke. Di bawah kepemimpinan Yamauchi, Nintendo meneruskan bisnis pembuatan kartu bekerjasama dengan Walt Disney pada 1959. Sukses pun diraih dengan penjualan mencapai 600.000 unit. Karena kurang yakin dengan bisnis ini, Nintendo kemudian memperluas usaha ke bisnis taksi dan love hotel, namun kemudian malahan merugi.


Hingga suatu waktu, suami dari Michiko ini bertemu Yokoi Gunpei, seorang insinyur pabrik sedang memainkan sejenis tangan penjepit yang bisa dipanjangkan. Kemudian terbersit ide membuat mainan dengan nama Ultra Hand. Ternyata mainan ini sukses dan membuat Yamauchi mengalihkan bisnisnya menjadi pembuat mainan.


Intuisi Yamauchi mengatakan masa depan dunia hiburan ada pada dunia elektronik. Ini mendorongnya mempekerjakan karyawan Sharp Electronic dan berhasil meluncurkan Color TV Game 6 di Jepang.


Sebagai presiden, ada langkah unik dilakukan Yamauchi yakni membuat tiga unit riset dan pengembangan (R&D) secara terpisah. Karena hanya Yamauchi yang menentukan game mana yang akan dirilis akibatnya terjadi kompetisi dan inovasi antar ketiga unit R&D. Pada masa awal ini, Yokoi dengan tim R&D 1 berhasil membuat Game & Watch yang sukses memulai revolusi video game.


Tahun 1983, lahir Nintendo Entertainment System (NES), permainan video game dengan layar TV sebagai tampilannya. Tahun-tahun berikutnya Nintendo terus mengembangkan mesin gamenya yakni Super Nintendo Entertainment System (SNES) pada 1990 , kemudian Nintendo 64, berlanjut dengan Wii dan Nintendo 3DS. Alat permainan inipun menjadi begitu mendunia dan mewarnai masa kecil anak-anak di seluruh dunia.


Meskipun masuk belakangan di Indonesia, popularitas Nintendo pun tak kalah dengan di Jepang.


Fahmi (30 tahun), karyawan swasta di Bekasi menyatakan,”Saya dulu memainkannya waktu SMP, permainan paling terkenalnya Super Mario Bross.”


“Nintendo, video game terkenal setelah era ding dong (arcade), populer sekali untuk generasi 90an. Tapi meredup waktu Sega dan SNES keluar,” imbuh Theofilus (30 tahun), Mahasiswa S2 UGM.


Mei 2002, Yamauchi berhenti sebagai presiden dan digantikan kepala divisi perencanaan, Iwata Satoru namun ia tetap menjabat dewan direktur hingga 2005. Kesuksesan bisnis membuat pria kelahiran Kyoto ini pada Maret 2012 menjadi orang terkaya ke-12 di Jepang dengan kekayaan hingga USD 2,5 miliar. Secara total, hingga Desember 2012, Nintendo berhasil menjual 651,8 juta konsol game dan 4,08 juta unit software.


Hak Cipta © 2013 HALO Jepang! HArian onLine indOnesia - Jepang. Dilindungi oleh Undang-undang